Perupa muda Jogja, Gilang Nuari, pameran di Kebun Buku. Pameran yang dibuka FJ. Kunting Rabu (29/4/2026) sore bertajuk ‘Markas Pohon di Lubang Kelinci’ itu berlangsung satu bulan.
17 karya: Lupa Pulang, Pencuri Buah Malam, Jebakan Serangga, Organ Hilang, Ramalan yang Bergeser, Reversi Sub Siklus, Flesh becoming Forest, Mythic Cells, Pencuri Buah Malam, Private Property I, Private Property II, Kavling Markas Pohon, Membakar Surat Cinta, Saksi Kunci, Akar Bawah Tanah, Tumbuh dalam Bayangan, Tangan Pertama, dipamerkan. Semua dipaku ke dinding, ditopang seni dekoratif yang meningkatkan nilai estetika karya Gilang.
Semua dibangun dengan gaya Gilang aka Kliwon ini. Drawing pensil, mengedepankan warna biru dan abu-abu serta arsiran-arsiran yang mengantar banyak sensasi dan portal metafora. Dulu, ia sempat membawa warna merah tetapi sekarang tidak lagi. Sebabnya rahasia.
“MBG kan sekarang biru,” kelakarnya. Jawabannya itu malah membuka portal untuk memahami ide-idenya di pameran itu.

Semua berangkat dari memori masa kecil. Dari ingatan yang ditimpa ingatan lainnya sehingga mustahil untuk presisi. Masa kecil (Gilang tentu saja), di mana ia tumbuh dari narasi sejarah, mitos, budaya, pendidikan, dan injeksi lain Orde Baru untuk membangun memori kolektif secara sistematis demi melegitimasi kekuasaan dan menciptakan stabilitas politik.
Membakar Surat Cinta dan Tumbuh dalam Bayangan mempertebal interpretasi itu. Chaturiani Istiqomah, kuratorial katalog pameran menulis begini dalam Membakar Surat Cinta:
Pada suatu sore di tahun 1998, seorang lelaki membakar berlembar-lembar surat cintanya di sebelah pohon mangga. Dia tampak lelah dan putus asa mendengar kabar kekasihnya yang hilang di ibu kota.
Saya percaya bahwa negara ini berdiri di atas darah pemberontak dan tangis para ibu dan kekasih yang kehilangan. Banyak orang kecil yang tak tercatat dalam sejarah bangsa padahal merekalah yang paling menderita dari kontestasi politik berdarah di negeri ini. Begitu pula lelaki imajiner dalam gambar itu.

Sebagaimana yang kita tahu, 1998 adalah tahun tragedi. Di Jakarta, penculikan demi penculikan, pembakaran, pembunuhan terencana, perkosaan, dan berbagai bentuk kejahatan lain hadir setiap hari di tengah upaya reformasi.
Mereka yang paling tidak berdaya justru menjadi korban. Toko-toko kecil, rumah-rumah sederhana, tubuh-tubuh yang tak sempat lari dari situasi, semuanya terseret dalam pusaran yang tidak mereka ciptakan. Negara yang seharusnya hadir, justru tampak seperti bayangan yang jauh, tak mampu atau tak mau menjangkau.
Tumbuh dalam Bayangan mengantar pada situasi sebelum setiap kota di Indonesia berubah jadi medan pertempuran kuasa. Institusi, di tangan Soeharto dan rezimnya adalah mesin kontrol tanpa suara. Kontrol itu masuk ke dalam percakapan sehari-hari. Orangtua mengingatkan anak agar sesuai dengan kriteria yang dinarasikan Orba dalam kurikulum pendidikan dan kemasyarakatan.
Remaja dipaksa menerima pandangan bahwa idealisme bisa berujung pada kehilangan masa depan. Seniman mulai menyensor dirinya sendiri sebelum karyanya dilihat orang lain. Ketakutan tidak lagi datang dari luar melainkan bersemayam di dalam kepala, menjadi suara kedua yang mengingatkan untuk patuh.
Dan memori Gilang barangkali mulai jernih di tengah asap dan ketakutan itu. Menyaksikan pameran tunggalnya, kita seperti diberi tahu secara halus bahwa ada satu hal yang tidak boleh hilang: ingatan. Sebab melupakan adalah bentuk pengkhianatan. Segala hal di sekitar barangkali ada dalam buku sejarah, tetapi pengingatnya justru fragmen memori kita sendiri sekalipun tidak presisi.









Leave a Reply