Paulus Neo, Mati Pelan, dan Hal-hal yang Sesungguhnya Tak Pernah Selesai
Screenshot

Paulus Neo, Mati Pelan, dan Hal-hal yang Sesungguhnya Tak Pernah Selesai

Perilisan mini album ini dilanjutkan dengan pertunjukan kecil di Lantai Merah, Senin (1/6/2026) sore.

Perilisan mini album ini dilanjutkan dengan pertunjukan kecil di Lantai Merah, Senin (1/6/2026) sore.

Paulus Neo terus melanjutkan perjalanan panjangnya sebagai seniman sekaligus produser musik. Setelah melewati “Cuaca Hari Ini”, ia mulai merangkai album ke-2 dengan EP berjudul “Mati Pelan”. EP yang dirilis Lantai Merah itu sudah bisa didengar Minggu (31/5/2026) di banyak platform dengar digital.

“Mati Pelan” berisi empat track: Hanya Lewat, Duduk Diam, Turun Hujan, dan Tidurlah. Ia merancang musik dan liriknya sendiri lalu mengajak Juliano Lorca dan Mallinda Zky berkolaborasi. Yabes Kurniawan pun kembali diseret untuk menata sekaligus menyelaraskan suara. Ydniar mengatasi artwork.

Album ini saya rasa tidak sesederhana “Cuaca Hari Ini” meski dalam produksinya, bergerak dengan sendirinya. Mula-mula kolaborasi dengan Mallinda hanya satu lagu tapi ada sesuatu yang mendorong Neo menantang dirinya sendiri sehingga melahirkan tiga track lain. Namun, muatannya jelas: mengajak pendengar untuk kembali sederhana.

Artwork bikinan Ydniar

Mini album ini terbaca—buat saya pribadi—seperti catatan harian seseorang yang menjalani kehidupan dengan banyak kehangatan. Yang muram. Yang mula-mula sederhana sebelum manusia menambahkan terlalu banyak syarat untuk merasa cukup.

Empat lagu datang seperti hujan kecil di kota yang sudah terlalu lelah pada dirinya sendiri ini. Setiap elemen suara ditatah pelan, seperti seseorang yang takut membangunkan luka-luka lama. Ada cinta yang tidak selesai. Ada perpisahan yang bahkan tidak diberi kesempatan untuk dijelaskan.

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh ukuran yang dipasang di etalase media sosial, saat algoritma mengubah manusia menjadi mesin, mini album tidak menawarkan apa-apa. Ia tidak menawarkan kemenangan. Tidak menjanjikan apa pun. “Mati Pelan” hanya menjadi rumah sementara bagi mereka yang tidak lagi tahu harus pulang ke mana.

“Mati Pelan” duduk bersama kesedihan kita. Menemani orang-orang yang pulang malam dengan kecemasan. Menemani mereka yang diam-diam merasa asing terhadap hidupnya sendiri. Sebab kehidupan modern telah mengubah terlalu banyak hal menjadi estetik. Dan di tengah kekacauan itu, kesederhanaan puisi justru terasa menghantam lebih keras daripada slogan besar tentang harapan.

Barangkali karena patah hati sesungguhnya tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk. Kadang menjadi lagu. Kadang menjadi kenangan. Kadang menjadi manusia yang belajar tertawa sambil membawa reruntuhan di dalam dadanya. Dan “Mati Pelan” mengerti itu.