Setelah mendengarkan demo band komplotan slamming death metal dalam cakram padat yang mereka kirimkan beberapa waktu lalu, saya pikir mereka bukan produk terusan dari Dissected meski dalam rilisan persnya mereka bilang: Dissentomy adalah reinkarnasi yang eskalatif.
Dua lagu demo: ‘Severed Limbs Carnival’ dan ‘Viscera Devourment’ jauh lebih ekstrim dengan komposisi yang memenuhi makna semantik kata brutal. Tak ada persona. Lagu yang digas dengan kecepatan sedang dengan riff demi riff seperti penggiling tulang era Victorian yang mengancurkan itu benar-benar menyakiti menggilas telinga. Kejam!
Bicara soal vokal, tidak ada melodi, tidak ada variasi atau dinamika. Hanya suara guttural rendah yang ‘menjijikan’—tentu saja dalam konteks slamming death metal. Dan dari produksi musik itu, agresivitasnya menjadi dua kali lebih menyerang dari sebelumnya sehingga Dissentomy buat saya bukan produk terusan, titik!
Lalu tema. Sekalipun ada keyakinan bahwa tema dalam genre ini tidak penting karena musiknya saja sudah polifoni, saya rasa tetap harus menanyakan ke mereka. Sebab, tema memengaruhi bagaimana musik itu ditatah dan begitu pula sebaliknya.
Windu (vokal), Fajar (gitar), dan Galih (bass) memilih lalu memilah peristiwa-peristiwa gelap dalam koridor sejarah raja-raja Jawa. Fokusnya adalah sejarah gore. Lokusnya: Amangkurat. ‘Severed Limbs Carnival’ merekam kebiadaban Amangkurat 1., di mana ribuan orang dibunuh lalu potongan tubuhnya diparadekan.
‘Viscera Devourment’ mengcapture pengkhianatan dan kekejaman Amangkurat II saat membunuh Raden Trunojoyo, mengambil organ tubuh lalu memaksa rakyat memakan cacahannya sebagai bukti bahwa mereka bukan bagian pemberontak.





Leave a Reply