Togaze dan Krisis Eksistensial Hari Ini

Togaze dan Krisis Eksistensial Hari Ini

Limbah efek tak memberi sensasi yang kuat tetapi cukup baik di departemen lirik

Limbah efek tak memberi sensasi yang kuat tetapi cukup baik di departemen lirik

Ketika melihat karakter visual artwork single terbaru Togaze: Mirelune saya menduga ia memang sudah kepaku mati shoegaze. Visualnya memenuhi kriteria artwork single atau album band-band shoegaze di pertengahan 90an: fokus pada sensasi dibanding bentuk dengan tipografi minimalis. Representatif grafis dari musiknya.

Aransemennya seperti shoegaze pada umumnya yang mengantar limbah efek ke telinga pendengar. Tidak menggelegar dan tidak begitu atmosferik. Seperti susunan suara yang saling bertumpuk saja. Dari sana saya teringat beberapa nama seperti Duster dan Bowery Electric.

Mirelune mendapat pengaruh turunan yang berakar dari noise pop dibalur elemen elektronik. Namun, ia lepas dari estetika dream pop yang sengaja dibangun sebagai ruang introspektif. Vokal atau elemen memang melodi terdengar lebih jelas di atas kebisingan instrumen tetapi kurang bertenaga.

Namun, Togaze punya naluri tajam memadatkan tema seputar kekosongan eksistensial dalam larik. Caranya menulis tentang hilangnya makna hidup dan keautentikan diri yang memicu rasa hampa dan kesepian yang dalam tidak kurang dan tidak lebih tetapi dekat dengan realita di sekitar.

Seperti yang kita tahu, media sosial mendorong banyak orang menjadi pusat semesta. Menjadi ukuran-ukuran massal yang seolah mengikat. Kondisi yang membikin orang terbagi dalam banyak citra sampai melupakan keunikannya sendiri sebagai manusia. Dan Togaze, menyampaikannya dengan cukup baik di area lirik.