Tanda Tambahnya Pameran Mari Menggambar Fragmen Jogja

Tanda Tambahnya Pameran Mari Menggambar Fragmen Jogja

Ide-ide para seniman kolaborator dalam pameran mengajak kita berdialog tentang Jogja hari ini.

Ide-ide para seniman kolaborator dalam pameran mengajak kita berdialog tentang Jogja hari ini.

Jogja. Kota ini adalah refleksi dari diri kita sendiri. Ia mencerminkan harapan, mimpi, ketakutan, dan penderitaan kita. Dan seperti sebuah karya seni, kota ini terus berubah, terus berkembang, terus berjalan. Ia adalah sebuah proses yang tak pernah berakhir, sebuah perjalanan yang tak pernah selesai.

Begitulah yang mampu saya serap dalam pameran Mari Menggambar Kaos: Fragmen Jogja yang digagas Tanda Tambah di Brewing Room Sabtu (25/7/2026) petang. Gambar para kolaborator seperti Jiwe, Soni Irawan, Dwiky KA, Robert, Arswandaru, Koko Mes56, dan Agan Harahap memancang fakta bahwa kota yang menyimpan banyak ini bukan milik satu dua orang.

“Saya menggambar kemiskinan,” kata Agan Harahap singkat.

Kemiskinan di Jogja sebenarnya bukan hal asing. Ia tampak tapi segan dibicarakan lantaran masih populernya adagium-adagium dari dalam istana yang diperkuat wacana-wacana filosofis—yang tampaknya lahir dari rahim sama. Agan mencerminkannya dengan objek yang paling personal dalam rumah tangga: gas melon. Wajah gas itu cemas bukan main karena memegang korek di tangan kanannya sementara ia bertopang pada dua bahu ‘kawannya’.

Gambar Soni Irawan di kaos dalam pameran Mari Menggambar Fragmen Jogja (Desta Wasesa)

“Kalau saya sebenarnya malas melukis tiga tahun ini jadi saya menggambar itu saja,” sambung Soni Irawan.

Teks ‘Bosan Seni Senian’ berwarna merah ditulis di atas kotak yang diblok oranye. Paduan warnanya membajak mata. Tampak sederhana tapi punya makna dalam. Jika pivotnya memang tentang Jogja, saya cenderung menangkap karyanya itu bicara tentang perulangan yang membosankan di kota ini.

Jogja, adalah kota yang minim kejutan. Barangkali, setiap detik dan kejadian bisa ditebak sepenuhnya, rasa antisipasi dan kejutan hilang, menyisakan pengulangan harian yang hambar. Penyebab konflik tidak pernah diselesaikan, ia hanya harus tandas dengan pemahaman dan pengertian.

Di karya Jiwe: Daily Catch, ia seperti menolak Jogja yang seragam. Jogja yang mulai diatur mesin-mesin sehingga membuat sebagian penduduknya menjadi robot. Dan di tengah kekacauan yang digambarkan dengan banyak objek di atas bidang persegi panjang itu, karya itu saya tangkap sebagai nasihat tongkrogan: saat ini hati kita, perasaan kita, jauh lebih penting dari apa pun di dunia ini.

Karya yang lain dibuat dengan pivot serupa. Mereka menangkap fragmen Jogja hari ini dengan gaya dan kebiasaan masing-masing perupa. Dan menyaksikan pameran dari Tanda Tambah itu mengajak kita melihat Jogja tanpa brosur wisata. Tanpa narasi yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja. Yang ditampilkan di sini adalah wajah sehari-hari: letih, riuh, kadang jenaka, kadang menyakitkan, tetapi jujur.