Rencana memperbaiki produksi musik agar lebih ‘mengganggu’ sebenarnya terlontar sejak tiga tahun lalu. Kalau tidak salah beberapa bulan setelah Iqbal (gitar) menetap di Bandung. Yudha (gitar) dan Adam (drum) juga ingin menjelajahi berbagai kemungkinan. Kata mereka, kami mau musik Temaram bergerak.
Saya melihat Temaram sebagai kolektif yang berisi orang-orang bebas. Kata ‘bebas’ di sana tentu saja berkaitan dengan ekspresi. Mereka tidak mau terikat dengan hukum atau rumus tak tertulis dari produksi musik metal.
Temaram tercatat dalam basis data ensiklopedia musik Encyclopaedia Metallum: The Metal Archive sebagai grup dengan genre stoner/doom metal. Namun, saya rasa, selama beberapa tahun terakhir predikat itu mengganggu mereka.
Saya percaya, sebuah band harus bergerak. Sebab diam serupa kematian yang kerap disama(r)kan sebagai ketakutan. Keberanian untuk bergerak itu, dalam realitas kekinian sebenarnya menakutkan. Mereka bisa diprotes kanan-kiri, yang terburuk kehilangan pendengar. Tapi, buat saya, bukankah itu lebih baik daripada menghabiskan masa muda dengan mengulang lagu yang sama, hanya karena orang lain menyukainya.
Dan gerak bebas itu sebenarnya sudah dimulai Temaram sejak dua tahun lalu tetapi tampaknya mereka baru membekukan satu dari banyak hasil penjelajahan itu Agustus 2026 ini.
Adalah Tiamut—begitu mereka memberi judul single terbaru—yang akan didahului dengan video musik. Lupakan sematan band doom atau stoner untuk Temaram. Tiamut cenderung mengarah ke post-metal. Suara gitar Temaram hari ini meluas, membentuk dinding suara berisi kontras dinamik yang tidak lagi kaku, melainkan melebur satu sama lain. Tidak sementah produksi di lagu-lagu sebelumnya tapi jauh lebih rapi.
Apa yang menarik dari post-metal saat ini adalah batasnya yang mulai kabur. Ia sering bercampur dengan keyakinan musik atau elemen lainnya. Yang menarik, aransemen ini membuka jalan vokal untuk ikut campur di tengah tebalnya dinding suara. Sekalipun terkesan dekoratif, vokal dalam Tiamut memberi sensasi berbeda bagi pendengar. Begitu pula pemilihan suara drum yang terkesan klasik, so-call.
Tiamut meliputi tempo yang lebih kaya, atmosfer muram, dan suara yang lebih eksperimental, setidaknya untuk Temaram sendiri. Waktu untuk membentuknya tidak sebentar dan di balik semua itu saya yakin ada pergulatan panjang, perdebatan untuk menemukan diri sendiri sekali lagi.
Album pertama Temaram telah memberi mereka identitas. Lagu-lagu pasca pandemi dan penampilan di sekian gig telah memberi mereka nama. Kali ini, Tiamut, memberi mereka sesuatu yang jauh lebih penting bernama kemungkinan. Dan kemungkinan selalu mengejutkan!








Leave a Reply