Saat ini kita hidup di tengah zaman ketika banyak orang bahkan kolektif sibuk mencari identitas dengan cara membatasi diri. Di musik, genre seolah menjadi sangat penting setelah makna kata ‘kalcer’ menjadi sangat eksistensial. Hip hop begini, rock begitu, shoegaze harus ada ini itu, blues itu cocoknya dengan vokal gini, gayanya harus begitu, dan lain sebagainya.
Namun, Gremory X saya rasa sedikit berbeda. Mereka tidak membatasi diri kemudian memilih jalan agak lain menuju identitas dengan membuka pintu selebar-lebarnya. Barangkali, itu sebabnya ‘X’ terasa begitu tepat di depan nama mereka. Ia tidak satu hal tetapi bisa berarti apa saja tergantung siapa yang datang, membawa apa, dan ke mana arah musik itu.
Gambaran itu saya tangkap setelah mendengarkan album penuh perdana: X Files sampai rampung. Judul album mereka mengingatkan pada serial televisi, The X-Files tahun 1993. Serial tu berpusat pada penyelidikan dua agen khusus FBI, Fox Mulder dan Dana Scully, terhadap kasus-kasus misterius yang sulit dijelaskan lewat data-data, lewat intuisi.
Pun Gremory X. Mereka mengumpulkan data (baca: musik) dari banyak sumber lalu menyusunnya agar dibaca para kolaborator, yang datang dari berbagai arah. Idol, rocker, rapper, dan orang-orang dengan karakter vokal yang berbeda-beda. Dengan kata lain mereka membangun dunia sendiri.
Para kolaborator Mereka datang bukan sekadar sebagai featuring. Mereka seperti potongan fragmen yang diperlukan. Setiap orang membawa warna, pengalaman, dan kemudian melontarkannya dengan cara berbeda. Namun ketika masuk ke dalam musik Gremory X, semuanya tidak kehilangan identitas.
Di sana pula huruf X memperoleh maknanya. X bukan lagi sekadar tanda yang diletakkan di depan sebuah nama agar terdengar misterius. X adalah persilangan. Pertemuan. Kemungkinan. Sebuah ruang kosong yang sengaja dibiarkan terbuka agar siapa saja dapat masuk dan memberikan sesuatu.
X adalah ketika rock bertemu idol. Ketika riff gitar bertemu rap. Ketika suara keras bertemu lantunan lembut. Ketika sesuatu yang dianggap tidak seharusnya berdampingan justru menemukan alasan untuk berjalan bersama. Mungkin karena itu X Files terasa seperti sebuah album yang sedang mencari definisi, sekaligus sudah menemukan jawabannya.
Ada sesuatu yang menarik dari sebuah band tanpa vokalis yang kemudian membuat album dengan banyak vokalis. Kontradiksi semacam itu justru sering melahirkan sesuatu yang jujur. Sebab mereka tidak berusaha menciptakan satu wajah. Mereka menciptakan sebuah dunia.
Dunia mereka tidak sepenuhnya sempurna. Satu track mungkin terdengar janggal atau ganjil karena karakter vokal gagal menembusi dinding aransemen. Atau di track lain, barangkali, kita menemukan karakter suara yang kesannya tidak cocok dengan aransemen. Namun, sekali lagi, mereka tidak peduli dengan rumus-rumus tak tertulis yang kini menjadi ‘hukum’ di sekitar.
X Files adalah album yang tidak pernah benar-benar mengenal batas. Ya, tentu saja batas-batas yang selama ini kita kenal dibuat manusia. Batas-batas bernama rock, pop, rap, idol, metal, atau elektronik. Kita memberi nama kepada bunyi supaya lebih mudah menjelaskannya. Tetapi bunyi sendiri tidak pernah meminta untuk diberi nama.








Leave a Reply