“Whisper From Nowhere” lahir dari pengalaman personal. Sebuah masa di mana kehilangan seseorang seperti kehilangan seluruh masa depan. Masa di mana pesan tak berbalas membuat malam menjadi lebih panjang. Masa muda, ketika seseorang sungguh-sungguh dalam menjalani hidup.
Album itu rilis lima tahun setelah Rammadhanial melepas “Don’t Let The Loneliness Kill You”. Masih pop punk. Masih dengan formula gitar yang dominan, drum yang berlari, bass menghentak dan lirik sederhana. Tetapi di balik kesederhanaan pop punk era 2000an, album ini juga menyimpan kemarahan, kesepian, cinta, penolakan, kebingungan, dan teriakan remaja pada dunia.
Secara teknis penataan suara sejumlah lagu lebih lebar dibanding album mereka sebelumnya, terutama di lagu Enjoy The Tragedy (In Every Way). Progresi akor dan presentasi musiknya juga berkembang, meluas. Apalagi dalam Broken Into Pieces. “Whisper From Nowhere” bukan album yang matang secara penyajian tata suara, tetapi album ini punya kekuatannya sendiri.
Saya cenderung yakin bahwa ketika sampai pada generasi yang masa remajanya tumbuh di era pop punk dua dekade lalu, “Whisper From Nowhere” akan membuat mereka kembali mengingat lalu membuka lagi catatan tmasing-masing ketika belajar menjadi dewasa melalui kesalahan-kesalahan kecil.
Generasi yang sempat hidup dengan nilai-nilai lama. Generasi yang kerap jatuh cinta dengan keberanian lalu patah hati dengan kesedihan yang terasa seperti akhir zaman. Mereka menulis nama seseorang di halaman belakang buku, menyimpan tiket bioskop, dan percaya bahwa kenangan adalah sesuatu yang dapat membuat seseorang tetap tinggal. Padahal hidup terus berjalan meski hati belum selesai.







Leave a Reply