Orkes Dansa La Mantrino (Ordal) melepas single berjudul ‘Jeda’ usai dua tahun nihil rilisan. Dalam rilisan terbaru itu, para ‘kartel’ yang dibangun Daneto Danardon (vokal), Kevin Guling (vocoder/ synth), Stanly (kibor), Aliamsa (gitar), dan Barirul (drum) tidak mengajak pendengar mengubah lantai menjadi medan dansa.
Jeda, ada ketika mereka butuh jeda. Jeda ada, agar badan-badan yang terluka oleh dunia itu beristirahat sejenak. Jeda ada, agar kita punya waktu berpikir. Bukan bercermin, tetapi supaya kita tidak tergopoh lalu tersandung saat mengejar waktu esok hari.
Kesan itu datang segera usai mendengarkan lagu yang dirilis ekslusif ke subvert.fm disusul DSP dua pekan dari sekarang itu dalam Talks dan Curi Dengar: Jeda, di Fifth Note Cafe Senin (9/8/2026) malam. Minus Barirul yang sedang bekerja, Ordal mengamini bahwa lagu ini secara organik mewakili kondisi tiap personel saat ini.
Aliamsa dan Stanly hidup di tengah hiruk pikuk dunia perkuliahan di sebuah kampus selatan Jogja. Kampus, hari ini, memang jadi tempat sibuk. Monoton. Jeda, dalam tafsiran mereka bukan perkara waktu. Ia adalah bentuk lain, menjadi kawan-kawan di sekitar, burjoan di Sumir, atau musik itu sendiri.
“Dan ‘jeda’ semacam itu yang membuat kami bisa menghadapi hari-hari dengan kuat,” kata Stanly.

Bagi Kevin Guling, jeda adalah waktu. Ia memberi ruang bagi mental dan tubuhnya setelah dihantam banyak badai, dari kehilangan satu ke kehilangan lainnya. Daneto melihat ‘Jeda’ sebagai pengendapan atas apa yang ia lihat dan pahami di trotoar dan taman ketika menembus kemacetan Jakarta.
“Lagu ini datang setelah saya melihat kawan-kawan pekerja di kanan dan kiri jalan menarik napas. Saling bercerita dan tos-tosan setelah menjalani hari yang berat. Dari sana saya konversi ke lirik dan lagu,” papar Dane.
Setiap orang barangkali harus jungkir balik dahulu untuk merasakan bagaimana dunia ini bekerja. Ordal pun merasa demikian, tidak hanya soal hidup, tapi juga di area produksi musik. Mereka mencari waktu di tengah pekerjaan dan aktivitas yang menyita tenaga, memoles tema, lirik, mencari sound yang cocok dengan sensasi suara pop balada 70an—yang mereka temukan lewat sumber suara langsung, bukan plugin dan lain sebagainya—lalu merekamnya di Mangala Jakarta.
“Jadi ya memang kenapa setelah dua tahun, karena bagi kami waktu adalah kendala terbesar dan sepertinya memang sudah saatnya saja. Soalnya kami memang butuh ‘Jeda’,” kata Kevin.
Kawan-kawan yang datang ke curi dengar turut menyampaikan impresi mereka. Rata-rata merasa “Jeda” merupakan lagu yang hangat. Mendengarnya seolah rasa capai di tubuh hilang. Lagu ini bagi mereka secara ajaib memang membuat mereka punya tenaga berpikir kembali setelah seharian bekerja.
“Jeda” bisa dimengerti demikian. Lagu itu tidak dibangun dengan frekuensi healing, melainkan menyesuaikan kebutuhan arah lagu—pop balada 70an—yang sering menggunakan frekuensi mid-range tebal dan suara bertekstur hangat. Ditambah lagi, aransemen era itu didominasi instrumen sederhana dan vokal yang jernih sehingga efektif dalam memicu hormon-hormon tertentu.








Leave a Reply