Never Truly Felt Like Me bukan sekadar lagu debut. Saya rasa ia banyak menyingkap ide dan musikalitas seorang Sena. Tentang tumpukan pengalaman atau abstraksi dengarnya. Tentang sepertiga hidup yang compang-camping. Tentang protes.
Single perdana yang rilis beberapa waktu lalu itu dibangun dari banyak elemen dari perluasan musik yang diusung anak-anak indie pop sejak pertengahan tahun 80an seperti The Flaming Lips. Dengan kata lain penuh warna, dinamik, sekaligus sinematik.
Aransemennya tak membosankan. Mengombinasikan elemen-elemen synth dari banyak era. Dan tentu saja melodi gitar yang mengubah arah lagu. Namun, eksekusi mixing di bagian vokal masih terkesan malu-malu. Dengan kata lain seperti tidak ingin mengorbankan kejelasan elemen.
Liriknya lugas saja. Tidak klise. Saya menangkap lontaran kritik. Terhadap nilai-nilai yang menyelinap kemudian mendekam di kolektif bernama keluarga. Protes terhadap filosofi cermin, tentang para orangtua yang menginginkan anaknya menjadi versi mini diri mereka. Yang harus hidup sesuai standar dan ukuran sosial.







Leave a Reply