Obatbius merayakan lebaran dengan lagu berjudul Maap. Mereka memang belum geser pivot ketika menggarap lagu ini. Masih mengedepankan unsur dan kebiasaan musik funky kota: cepat di atas landskap penuh liukan berbahaya.
Maap, cenderung lebih kaya dari lagu-lagu mereka sebelumnya. Kaya di sini tentu saja perkara teknikal. Mereka juga lebih sopan dalam menata aransemen dan mengatur ornamen. Buat saya, Maap adalah produk Obatbius yang digarap ketika kondisi tubuh menerima dosis obat bius ringan.
Bima Setyo Raharjo (synth, back vocal), Felix Nugroho (synth, back vocal), Abednego Evan (gitar, back vocal), Paulus Neo (synth bass, back vocal), dan Dimas Suryo Kencono (drum, back vocal) menyesuaikan aransemen dan kerampingan suara dengan cengkok Asriuni Pradipta dan latar suara Juliani Lorca.
Obatbius juga memgonversinya dengan instrumen hadrah yang difungsikan memicu sensasi estetika tradisi ke telinga pendengar.
Bila lagu ini dirilis untuk merayakan lebaran, maka Obatbius menggunakan makna leksikal detonatif-deferensial mengelupasi tema. Bukan makna lebarannya melainkan perayaan, yakni sebuah aktivitas atau peristiwa yang melibatkan banyak orang di satu tempat dalam waktu tertentu untuk memeringati hari atau peristiwa besar lalu menarik ekspresi sebagai bagian dari realitas yang ditunjuknya.
Dan dari semua hal itu, Maap, tampaknya sudah cukup menggoyang.






Leave a Reply