Bintang Muda Lokananta (BML) Vol. 2 sampai juga di Jogja. Drewgon (Maluku Tenggara), BaverlyLine (Semarang), dan Barmy Blokes (Solo) berbagi panggung dengan Skandal di Mili Sayidan, Sabtu (18/7/2026) malam.
Gig dibuka dengan talks dan ngobrol santai tiga finalis dengan pendengar dan media. Heruwa (Shaggydog) ikut dalam perbincangan yang berlangsung selama 60 menit itu, berbagi pandangan sekaligus trik dan tips pada finalis. Ia memulainya dengan nostalgia, ketika memulai perjalanan musik bersama Shaggydog.
“Kami senang melakukannya (benbenan). Tidak ada tekanan sedikit pun dan sampai hari ini, kami (Shaggydog) tidak berubah. Tetap komitmen terhadap apa yang kami tekuni,” kisah Heruwa.
Baverlyline, Barmy Blokes, dan Drewgon sebenarnya punya fondasi yang sama. Mereka membangun band dan kolektif dengan semangat bersenang-senang. Lama-lama semangat itu membuka banyak jalan dan peluang, termasuk ke Lokananta khususnya BML tahun ini.
“Pas sampai Lokananta, wawasan kami tambah. Ternyata industri itu begini dan begitu. Kami merasa upgrade, dan semuanya dari niat senang-senang,” beber Wiki Setyawan, mewakili Barmy Blokes.

Lokananta tidak sekadar membuka jalan dan peluang. Ia juga mendatangkan sejarah yang bisa ditangkap para finalis. Drewgon mengaku demikian dalam talks, ketika ia merekam karyanya dalam studio. “Ada bau-bau sejarah, ide datang seperti dibisikin oleh leluhur. Ada ide sampling sehinga saya pakai sampling Lokananta tahun 85,” sambungnya.
BaverlyLine lebih banyak bicara tentang tur BML Vol. 2. Dari tur ini mereka bisa menemukan jaringan dan perkawanan yang lebih luas. Bersua orang-orang baru yang membuka banyak kemungkinan-kemungkinan. “Karena pada dasarnya kami suka hal-hal yang seru dan tur ini seru banget,” kata Wida.
Talks ditutup dengan pandangan Heruwa tentang industri musik Indonesia hari ini. Bagi Heruwa, ada dua hal yang harus digaris bawahi. Pertama, negara setidaknya mempermudah para seniman termasuk musik untuk memasarkan karya. Dengan kata lain, negara yang baik adalah negara yang memfasilitasi para musisi dan kolektifnya.
Kedua, mentalitas. Orang-orang di Eropa melihat Indonesia sebagai negara musikal. Hampir di tiap tongkrongan, dari cafe sampai gardu, minimal ada satu orang yang bisa main gitar. “Artinya jangan takut, teman saya di sana (Eropa) sungguh heran sama Indonesia. Kenapa kok banyak orang bisa main alat musik di sini,” pungkasnya.







Leave a Reply