“Saya pribadi harus mengasah kepekaan. Menajamkan pikiran. Sebab, kita harus mengerti: kita sedang ngapain, memainkan apa dan bagaimana, agar bisa bertanggung jawab.”
Begitu jawab Humam Mufid, pembetot bass FSTVLST, atas pertanyaan moderator sharing session album “Paradoks Diametral” tentang lagu Objek Vital Nasional di Tepian House Rabu (24/6/2026) sore. Pertanyaan itu lahir dari pemaknaan bebas OVN yang dianggap cukup dekat dengan situasi saat ini.
Pertanyaannya sederhana: apakah Mufid dan Danish turut mengasah wacana dan kepekaan terhadap situasi sosial dan lingkungan hari ini karena ada yang memaknai OVN sebagai lagu tentang sengketa ruang. Mengasah kepekaan dan wacana tentu saja bagian dari tugas mereka sebagai musisi agar turut memahami, setidaknya, separuh alam pikir penulisnya.
Dari sana, sharing session yang digarap Prodvokatif dan Musikjogja meluas. Mereka juga membabar beberapa rahasia lain selama mengomposisi lalu menyusun “Paradoks Diametral”. Salah satunya lagu Jefferson. Danish membeberkan sengaja memberi pola di awal lagu untuk memancing ingatan pendengar sekaligus mengambil kesimpulan tentang tema.
“Jadi pas orang denger pukulannya, langsung ‘oh ini kok mirip ini jadi ini lagu tentang Jogja ya’ yang bagi kami sendiri punya arti masing-masing juga,” beber Danish.

Polisemi secara sederhana diartikan sebagai kondisi di mana lagu (lirik, konteks, melodi) ditafsirkan secara berbeda tergantung sudut pandang pendengar. Bagi beberapa pendengar, OVN bisa saja politis. Kritik. Bagi sebagian lainnya bisa saja terdengar sebagai lagu disko biasa. Jefferson bisa saja diartikan merekap transformasi sosial paling berdarah di sekitar Kranggan atau lagu nostalgia mereka yang tumbuh, bermain, dan besar di sana.
“Saya sendiri memaknai album ini sebagai pemicu seseorang untuk memulai lagi. Apa pun,” tambah Mufid. “Kalau aku sih untuk mereka yang jatuh cinta karena kalau bukan karena cinta terhadap sesuatu, musik misalnya, nggak mungkin kita bahas ini sekarang ramai-ramai,” sambung Danish.
Kawan-kawan yang datang ke sharing session terbagi menjadi enam golongan. Pertama, pendengar FSTVLST yang cinta mati pada album pertama. Kedua, kritikus dan pengelola media independen. Ketiga, kawan-kawan yang akrab dengan dunia Jejepangan dan baru pertama kali mendengar FSTVLST khususnya “Paradoks Diametral”. Keempat, kawan-kawan dari skena buku. Lima, kolektif kajian musik populer. Enam, healing hunter.
Mereka turut melontar pengalaman. Di antaranya tentang kesenjangan emosional antara album pertama dan kedua, kecurigaan terhadap aransemen, kemudian tentang cara menikmati album ke-3 yang terkesan sulit karena belum terbiasa dengan eksplorasi dan kebaruan yang disajikan FSTVLST. Dan di sanalah membuka rahasia kedua.
”Paradoks Diametral” bagi Danish dan Mufid adalah medium. Untuk bebas dan mencari kenyamanan bermain sembari menekan keinginan-keinginan tidak perlu. Yang tidak sesuai kebutuhan dalam lagu-lagu mereka. Di sana peran Iga Massardi sebagai co-producer hadir. Dia menanggalkan sementara predikat Barasuara-nya, memosisikan diri sebagai sebenar-benarnya tim dari FSTVLST dalam mematangkan penyusunan sampai opsi penatahan suara.
“Iga ngerem kami sehingga apa yang kami lakukan selama produksi adalah aktivitas kolektif yang menyesuaikan kebutuhan,” terang Danish.
FSTVLST membangun Paradoks Diametral sejak 2022. Empat tahun prosesnya meninggalkan kenangan yang tidak sedikit. Mereka memang tidak hanya bersenang-senang di album ke-3 ini tetapi juga memaknai prosesnya secara luas dan dalam. Yang suatu saat nanti bisa dipelajari siapa saja di kemudian hari.
“Rencananya prosesnya ini akan kami bikin buku. Biasanya kan pakai film dokumenter tapi ada rencana bikin buku. Isinya ya mungkin nota jajan, atau arsip-arsip yang gimana gitu,” tutup Danish sekaligus membocorkan rahasia ke-3.








Leave a Reply