Ketika melihat foto Mitty Zasia yang dikirimkan ke redaksi untuk melengkapi single terbaru berjudul ‘Jujur Saja Arahnya Kemana’, saya tak bisa menahan banyak duga dan curiga. Mitty mengenakan komponen Hauberk, baju zirah yang populer di abad pertengahan di kepala dipadukan busana serba hitam dengan latar merah.
Seolah-olah Mitty babak belur, seperti tentara yang kalah di medan perang. Kudanya pergi. Pedangnya patah. Namun, ia bertahan hidup, berusaha keluar dari tanah merah yang terus menenggelamkan.
Dugaan saya tidak sepenuhnya salah saat menyelesaikan lagu sepanjang tiga menit delapan detik ini. Mitty, adalah tokoh yang sedang mencari lalu menggugat makna kehidupannya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan datang dengan sopan, dengan kemarahan yang diam-diam disisipkan.
Ia sial, berada di tengah orang-orang yang dipaksa percaya bahwa hidup harus selalu naik, selalu progresif, selalu terlihat. Tidak ada ruang untuk ragu, untuk gagal, untuk berjalan pelan-pelan. Mitty dihajar kenyataan mereka yang mendefiniskan hidup harus selalu fotogenik, menyembunyikan yang kusut dan tidak menarik untuk dipamerkan.
Kita sedang hidup di zaman ketika perbandingan menjadi candu. Orang tidak lagi bekerja untuk makna, melainkan untuk validasi. Tidak lagi mencintai karena tulus, melainkan karena ingin terlihat pantas dicintai. Nilai-nilai digeser perlahan: kesederhanaan dianggap kemunduran, keraguan dianggap kelemahan, proses dianggap lamban. Padahal, ini kehidupan pertamaku/Wajar kalau banyak bodoh-bodohnya, kata Mitty.
Ia menyampaikannya dengan karakter musik seperti karya-karya sebelumnya. Masih ngepop. Dengan tata suara yang ramah di telinga semua pendengar, dinamis, dan menopang tema. Sepintas gaya penceritannya mirip ‘Sabana’ di album penuhnya. Bedanya, setiap pertanyaan dalam single baru ini bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk dirinya sendiri.








Leave a Reply