The Philanthropist merilis “Trajectory” 19 Juni 2025. Album penuh itu mereka lempar ke platform digital usai lima tahun mematangkan musik dan perkawanan dari pinggir Kali Code. Album itu berisi sepuluh track: lima berbahasa Inggris, tiga indonesia, dan dua instrumental.
“Trajectory” dibuka ‘Prologue’. Track pertama itu mereka pasang sebagaimana mestinya sebuah prolog. Pendahuluan, pengantar cerita dan latar belakang. Track yang memberitahu pendengar akan The Philanthropist hari ini. Tentang album ini, yang berfondasikan rock n roll, jazz, psychedelic, blues, sampai balada 60an ala Morris Albert.
Tata suara terdengar kering dan gersang. Barangkali karena kebutuhan mereka agar terdengar lawas. Namun, kerapian dalam memecah suara latar dan utama patut diacungi jempol karena menambal kesan gersang itu.
Ada beberapa lagu yang menarik perhatian terutama dua track berbahasa Indonesia ‘Musim Panas’ dan ‘Setelah Hujan’—dengan transisi dan mood swing brutal dalam konteks pop— yang ditulis menggunakan gaya lirikal Mochtar Embut yang kental dengan personafisikasi.
Barangkali sebagian pendengar menganggapnya lebay. Tapi bodo amat, sebab sebagian lagi akan mendapati zaman, yang bicara, bahwa realita ada pada mata yang kita tatap. Bukan pada layar-layar kaca. Bukan pada utas.






Leave a Reply