Majelis Lidah Berduri: Hujan Orang Mati (Album)

Majelis Lidah Berduri: Hujan Orang Mati (Album)

Melihat sampul Majelis Lidah Berduri dan mengingat gaya serta upaya mereka dalam menyusun riwayat karya, saya menduga “Hujan Orang Mati” adalah album berkonsep kuat serupa “Balada Joni dan Susi” serta “NKKBS”.

Sampul foto berjudul “Ziarah Makam Terendam Banjir Rob” itu diabadikan Aji Styawan. Saya tidak tahu di mana persisnya lokasi foto itu diambil. Mungkin di Demak atau Semarang. Mungkin juga di wilayah lain karena peristiwa seperti dalam foto itu mulai banyak terjadi. Ketika hujan tak lagi menemui akar-akar, yang tersisa adalah pilu.

Cover album Hujan Orang Mati by Aji Styawan.

Sampul itu bicara tentang kematian dan begitu pula “Hujan Orang Mati”. Kematian, yang mereka tilik dari sudut pandang orang-orang biasa dengan segala keterbatasan dan kekerdilan. Bukan dari sudut pandang pahlawan, seperti Mishima atau antidot lain yang menerjang kematian dengan gembira. Orang-orang yang takut mati. Sebab, kematian memisahkan sekaligus menyengsarakan. Termistifikasi lantas memaksa menjaga ingatan dalam sederet upacara, selametan.

Konsep itu dibangun secara utuh, dari track pertama hingga—buat saya—selesai dalam “Takut Mati dengan Berani”, di lagu ke-12 sekali pun ada 15 track dalam album ini. Dua track sebelum lagu ke-15 semacam babak tambahan saja.

Gaya Majelis Lidah Berduri masih sama, membaurkan musik dan teater lewat audio lalu menyusun repertoar sehingga tiap track serupa babak yang mengantar ke babak lain—dengan memberi pendengar keleluasaan menyusun adegan demi adegan. Reka imajiner itu dibantu dengan tata suara mengesankan. Bauran instrumen seperti punya lalu menjalankan fungsinya sendiri.

Beli album mereka di sini!!