Kalian orang Jogja, apalagi yang hidupnya di area kota, apakah pernah merasakan jalan-jalan yang biasa kalian lewati seketika sesak dan macet? Pada musim atau momen tertentu, Jogja memang selalu ramai dikunjungi orang. Jalan penuh dengan plat luar kota, bus pariwisata menyesaki tempat wisata ikonik.
Fenomena tersebut biasa disebut sebagai Mass Tourism, suatu kondisi di mana terjadi lonjakan pengunjung di suatu wilayah yang melebihi dari kapasitas daya tampung tempat tersebut. Apabila kita refleksikan masalah ini, dampaknya—dari ekologis sampai sosial—cukup destruktif.
Entah itu berupa kesenjangan sosial, lunturnya nilai-nilai budaya, meningkatnya volume sampah, kelangkaan air tanah akibat massifnya pembangunan hotel—dan tentunya yang paling kasat mata lalu lintas yang macet—apalagi bila destinasi wisata berada di tengah kota.
Dalam artikel ini, saya akan mengulas sejumlah lagu punk yang mengkritik fenomena itu. Kenapa punk? Sebab, bagi saya sejak kemunculannya, musik dan gerakan punk menjadi meriam kritik kaum marjinal terhadap kekuasaan yang dipunyai kaum borjuis dan kaum bobos.
Seperti genre lainnya punk tidak kemudian berhenti sebagai sebuah produk musik. Alih-alih sibuk merancang estetika, musik punk pada umumnya menaruh perhatian pada gagasan: apa yang disampaikannya dan pada siapa pesan itu disampaikan. Sebab punk sendiri hadir akibat dari kejenuhan pada genre yang kehilangan esensinya. Punk hadir dengan semangat inklusif tanpa melihat status dan skill. Juga selain itu Punk memiliki wacana besar: Do it Yourself (DIY), tolak komersialisasi, dan kapitalisme.
Begitu pula dengan para penikmatnya. Punk kemudian tidak hanya berhenti sebagai musik yang didengarkan melainkan dapat menjelma semacam pandangan hidup bahkan Ideologi. Pada artikel ini, akan menyampaikan beberapa lagu punk yang mengkritisi dampak dari Industri pariwisata.
Spanish Bomb – The Clash (1979)
The Clash memaksa kita melihat jarak antara liburan dan kenyataan. Joe Strummer menulis lagu ini pada 1979 setelah mendengar laporan pengeboman di Costa Brava, kawasan wisata Spanyol yang populer bagi wisatawan. Ia tidak sekadar melaporkan peristiwa, melainkan mempertanyakan bagaimana tempat yang sarat luka sejarah berubah menjadi destinasi liburan yang nyaman.
Dalam liriknya, bayangan pesawat DC-10 yang membawa wisatawan bertabrakan dengan ingatan perang, parit, dan eksekusi penyair Federico García Lorca. Larik spanish bombs shatter the hotels menjadi refleksi tajam terhadap hotel dan resor yang menampilkan diri sebagai ruang netral, padahal mereka berdiri di atas lanskap yang tidak pernah benar-benar lepas dari konflik dan penderitaan.
Holiday in Cambodia – Dead Kennedys (1987)
Lagu yang ditulis secara kolektif ini bukanlah promosi pariwisata melainkan satir tajam terhadap kenyamanan dan kemunafikan. Lagu ini menyasar orang-orang yang hidup nyaman di dunia barat, tetapi menganggap penderitaan orang lain sebagai topik obrolan, konsumsi budaya, atau pengalaman yang jauh dari kenyataan mereka.
Kata ‘liburan’ sengaja dipakai untuk membalikkan makna. Kamboja bukan tempat berlibur, melainkan ruang yang menyimpan trauma politik dan kekerasan. Lewat lagu ini, Dead Kennedys memaksa pendengar melihat ketimpangan sosial.
Holiday in The Sun – Sex Pistols
Track itu menjadi kritik tajam terhadap pariwisata yang mengabaikan penderitaan lokal. Larik cheap holiday in other people’s misery menggambarkan wisatawan yang menikmati kenyamanan di atas penderitaan orang lain seolah kemiskinan, konflik, atau tragedi hanya menjadi latar hiburan.
Fenomena serupa masih terjadi. Destinasi miskin dijadikan objek foto, budaya dikomodifikasi, dan masyarakat adat terdorong tampil eksotis demi uang wisatawan. Lirik tentang Tembok Berlin juga menyinggung pariwisata yang menjadikan luka sejarah sebagai atraksi tanpa empati.
30 Tahun Pengangguran – DOM65
Lagu 30 Tahun Pengangguran yang liris 17 Agustus 2020 ini menyindir wajah gemerlap pariwisata yang menyembunyikan ketimpangan sosial. Larik dengan frasa sindirian seperti beton perhotelan dan kemacetan kota pendidikan memperlihatkan bahwa pembangunan hotel, modal, dan citra modern tidak mengutamakan lapangan kerja layak bagi warga lokal. Dengan kata lain, kemakmuran pariwisata belum tentu menjangkau rakyat kecil.
Lagu ini menjadi kritik tajam bahwa pariwisata seharusnya membuka peluang, bukan sekadar memperindah kota tetapi menelantarkan penghuninya.
Tourism Kill The City – Corner Attack
Lagu garapan band Jogja yang rilis tahun 2021 ini bercerita tentang kegelisahan kaum urban tentang dampak pariwisata yang berlebihan atau over tourism tanpa dimbangi aspek penunjang yang baik. Di sini Corner attack juga merefleksikan kenyataan pahit di mana warga hanya menjadi penonton di balik riuh dan romansa kota.
Corner Attack sebagai representasi pemuda Jogja menyadari betul bahwa pariwisata telah membunuh kota. Alih-alih meromantisasi citra kota, mereka justru melontar kritik bahwa pariwisata di kemudian hari menghadirkan masalah struktur yang tak kunjung usai. Mereka menutup lagu dengan sindiran keras: tourism kills the city, profits trump justice.
Menuju Terang – The Subcults
Lagu ini adalah debut The Subcults yang liris tahun 2025. Menuju terang memiliki nuansa kawin silang antara post punk dan surf Rock. Mereka sendiri nyaman menyebutnya post punk surf.
Lagu ini memantulkan cerita tentang pemuda yang merantau ke kota akibat urbanisasi yang kerap terjadi di wilayah pesisir pantai Gunungkidul. Sang pemuda menyadari bahwa untuk pulang kembali ke akar adalah suatu yang sejati.
The Subcults mengajak kita memahami bahwa Gunungkidul bukan sekadar destinasi pariwisata dan proyek pembangunan nasional melainkan juga tentang kehidupan nyata masyarakat pesisir. Dari lagu ini kita bisa melihat wajah mass tourism tidak selalu beriringan dengan kesejahteraan masyarakat setempat dan kedua perkara itu perlu ditata ulang.
Randy Dwi Bimantara
Penulis adalah lelaki kelahiran Mataram, NTB 27 tahun yang lalu. Ia akrab di sapa Randy. Sekarang sedang melanjutkan Pendidikannya di Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada. Randy suka membaca kadang menulis kajian Musik, Antropologi dan Sejarah.








Leave a Reply