Q and A Mantrino Records: Havin Fun Berkedok Survival Mode
Mantrino Records (Dok. Mantrino)

Q and A Mantrino Records: Havin Fun Berkedok Survival Mode

Wawancara tertulis dengan kolektif yang baru saja merayakan ulang tahun ke-5.

Wawancara tertulis dengan kolektif yang baru saja merayakan ulang tahun ke-5.

Happy Birthday, Mantrino! Aku tuh pengen wawancara kalian sejak lama, apalagi pas bikin show di Artjog tapi gak kesampaian. Karena musikjogja ini mengedepankan teks, boleh ya aku wawancara tertulis dengan kalian hehehe. Makasih banyak kawan-kawan. Ini dia pertanyaanya.

Jika ditarik mundur ke hari pertama Mantrino terbentuk, apa ekspektasi terbesar kalian saat itu, dan seberapa jauh realitas hari ini melompati atau justru membelokkan ekspektasi tersebut?

Awalnya, Mantrino terbentuk karena temen-temen yang suka nongkrong bareng di rumah waktu pandemi. Kebetulan waktu nongkrong pasti agenda utamanya dengerin musik bareng-bareng. Nah, ide tercetusnya jadi record store awalnya karena masing-masing dari kami waktu itu BU dan jual beberapa koleksi pribadi, di situlah kami sepakat daripada muter barangnya di situ-situ aja mending kami coba bikin toko kali ya. Survival mode. 

Kami gak pernah punya ekspektasi bakal jadi kaya gimana dan sampai sekarang pun menjalaninya juga masih sama kaya 5 tahun lalu karena semua berangkat dari having fun yang berkedok survival mode. Jadi selalu ada inisiasi baru karena prosesnya lewat saling tukar ide di tongkrongan.

Di tahun ke berapa kalian merasa Mantrino bukan lagi sekadar proyek “iseng-iseng kumpul teman”, melainkan sebuah entitas kolektif yang gerakannya mulai diperhitungkan?

Di tahun kedua sudah mulai terasa banyak tawaran investor untuk bikin cabang toko di beberapa kota. Tapi waktu itu kami belum siap dan mikir ‘ya sudahlah gini aja dulu’ karena kami lebih enjoy untuk ngurusin rumah sendiri. Masih banyak PR haahaha.

Gerobak Dansa Keliling Mantrino (Foto: Dok. Mantrino)

Bagaimana kalian menjaga keseimbangan antara fungsi sebagai toko rilisan fisik komersial dengan peran sebagai kolektif yang fokus sama gerakkan pop kultur. Eh ceritakan juga dong motif Gerobak Dansa Keliling.

Sebenarnya ide adanya si gerobak ini juga gak direncanakan. Awalnya ketika kami bikin DJ booth yang ada rodanya, demi memudahkan mobilitas waktu loading. ‘Kok malah mirip gerobak ya?’ Ya sudahlah di-bablaske wae.

Setelah Gerobak itu jadi dan akhirnya banyak respon baik, kami memantapkan diri buat jadi wadah teman-teman yang mau berkolaborasi. Untuk menjaga keseimbangan kedua entitas tersebut kami tetap berusaha relevan dengan teman-teman di sekitar saja dulu karena memang niatnya dari awal memang jadi wadah untuk mereka juga.

Banyak kolektif di Jogja tumbang sebelum menginjak usia 3 tahun karena masalah pendanaan. Bagaimana Mantrino menyiasatinya? 

Kami selalu coba terbuka dengan potensi yang ada dan cari benang merah di antara kami dan kolaborator yang bisa dijahit bareng. Tentunya tetap melihat kapasitas dari yang kita miliki dan tidak muluk-muluk.

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, bagaimana kalian melihat pergeseran perilaku audiens musik di Jogja? Apakah rilisan fisik dan pesta komunitas masih menjadi ruang sakral, atau sudah bergeser menjadi sekadar pemenuhan estetika visual (gaya hidup) semata?

Tren mungkin sudah bergeser, dan kami tidak mempermasalahkan itu. Justru jadi tantangan kami untuk tetap relevan. Motivasi orang untuk beli rilisan fisik macam-macam dan menurut kami fair saja dengan segala kecenderungannya.

Untuk pesta komunitas lagi lumayan redup, mungkin karena banyak anak muda yang berubah jadi banyak melek dan upgrade diri lewat kegiatan positif seperti olahraga dan gaya hidup sehat. Selama trennya positif, mungkin bisa tuh Mantrino punya tim olahraga ke depannya karena beberapa teman-teman juga sekarang lebih banyak ketemu di tempat olahraga hahahaha.

Orkes Dansa La Mantrino X Sekutu Imajiner Artjog 2025 (Dok. Artjog)

Mantrino sering berkolaborasi (seperti proyek Gaung Gumaung, dll). Di ekosistem Jogja yang padat kolektif, bagaimana kalian melihat dinamika ini? Apakah Jogja masih menjadi ruang bermain yang sehat bagi tiap kolektif ke depannya?

Semua kolaborasi yang pernah kami lakukan dengan berbagai pihak, seperti jawaban pertanyaan sebelumnya, kami selalu coba terbuka dengan potensi yang ada dan cari benang merah di antara kolaborator yang bisa kita dijahit bareng. Jadi dinamikanya selalu seru, kami bersyukur masih bisa kasih kontribusi sekecil apapun terhadap kota ini karena menurut kami Jogja bakal tetep jadi laboratorium yang menarik untuk eksperimen apapun. 

Setelah perayaan ulang tahun ke-5 ini, batas atau apa lagi yang ingin kalian dobrak? Apakah ada cetak biru yang belum terwujud?

Nah kami gak mau muluk-muluk soal ini. Mungkin tunggu saja gebrakan dari kami.Biar surprise dikit hahaha.

Jika suatu saat Mantrino harus berhenti beroperasi atau masih ada tapi harus menyerahkan tongkat estafet ke yang lebih muda, warisan atau pemikiran apa yang paling kalian ingin tinggalkan untuk generasi selanjutnya?

Dari tahun kedua kami sudah mulai memikirkan cara regenerasi yang baik, karena masing-masing founder di dalam Mantrino jarak umurnya cukup jauh. Mungkin yang pengen ditularkan adalah jangan pernah jadi abang-abangan yang gak asik, tetep muda saja tapi tahu kapasitas dan prioritas dari kehidupan seorang bakal berkembang seiring berjalannya waktu.