Pameran foto + Pamor yang digarap Tanda Tambah bersama Mes 56 di Brewing Room berangkat dari hal-hal dekat yang dimaknai biasa: warung. Padahal justru di tempat-tempat yang dianggap biasa itulah kehidupan kerap menyimpan maknanya yang paling jujur.
Warung sering kali luput dari perhatian kita. Pameran foto yang bakal berjalan selama satu bulan itu berusaha memandang warung dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai etalase barang dagangan, melainkan sebagai ruang sosial yang tumbuh bersama denyut masyarakat.
Bagi saya, karya-karya para seniman: Anang Saptoto, Angki Purbandono, Fajar Riyanto, Yudha Kusuma Putera, dan Wimo Ambala Bayang menangkap warung menjadi titik temu yang mempertemukan banyak kisah, tanpa pernah meminta pengakuan. Dan warung adalah ingatan yang terus hidup.

Simak foto Angki Purbandono tentang pemilik warung bernama Yohanes Eko Sarjono. Di sana, pengunjung pameran akan ditinju ketekunan yang lamat-lamat menjadi ketabahan. Melihat bagaimana Pak Eko hidup, saya tiba-tiba yakin bahwa seni tertinggi sekaligus terumit di dunia adalah seni membangun lalu mempertahankan keluarga. Ia melampaui abtsraksi, deformasi, dan aliran-aliran lain yang kita kenal.
Puluhan toples, rak sederhana, dan buku hitung—atau barangkali buku hutang kusam sering kali menyimpan sejarah keluarga yang panjang. Ada harapan yang diwariskan bersama timbangan, penumbuk, dan etalase yang mungkin telah berganti berkali-kali di
Saya menemukannya melalui karya Yudha Kusuma Putera. Ia bercerita tentang toko kelontong bernama Wiwoho di samping Tugu Jogja. Setiap foto tampil sebagai saksi perjalanan zaman. Mereka merekam wajah-wajah yang menjaga keberadaannya, benda-benda yang menyimpan jejak waktu, serta percakapan-percakapan kecil yang membentuk kehidupan sehari-hari.
Wimo Ambala Bayang mengajak kita melihat kembali ekspresi bisa yang selalu menyembunyikan cerita. Tentang daya dan upaya cerita yang membuat sebuah komunitas tetap hidup. Sebuah cerita yang tidak gaduh, tetapi bertahan. Seperti warung Podo Rukun di sebelah gang Mes 56.
‘Keluarga Bunga Musika’ Anang Saptoto laiknya foto forensik. Warung yang dulunya sebuah sanggar ternyata menyimpan sesuatu yang lebih dalam daripada fungsi yang tampak di permukaan. Anang tidak hanya membawa ingatan pengunjung tetapi juga keluarga itu sendiri.

Dan Fajar Riyanto. Dari kehidupan Ainun Murwani, kita tahu bahwa mustahil hidup sendirian. Saya menangkap makna bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu dibangun di ruang-ruang besar dan megah. Kadang, ia tumbuh di dalam ruang paguyuban, di tepi sungai, atau barangkali di antara panci dan ember yang berpindah tangan.
Dan seperti banyak hal baik dalam hidup, warung bertahan bukan karena kemewahannya, melainkan karena kesetiaan orang-orang yang menjaganya. Ia adalah warisan yang tidak ditulis menjadi babon, tetapi hidup dalam kebiasaan, dalam percakapan, dan dalam ingatan bersama.
Pameran + Pamor ini adalah penghormatan bagi ruang-ruang kecil itu—ruang yang diam-diam telah menjaga kehidupan kita lebih lama daripada yang sering kita sadari.






Leave a Reply