Setelah melepas album penuh beberapa waktu lalu, Mochtar tur ke lima toko buku. Start 10 April 2026 lalu di Warung Sastra kemudian 17 April di Shira Media, 19 April ke Solusi Buku, 24 April menuju Buku Mojok/Mojok Store, lalu berakhir di Buku Akik 3 Mei 2026.
Album penuh dan keputusan tur banyak mendapat apresiasi. Itu upaya promosi yang asyik, sebab membuka banyak kemungkinan setelah melakukan penyegaran di area musik dalam album penuh. Mereka juga memamerkan sekaligus menjual format fisik dan merch selama tur.
Di tengah kesibukan itu, Musikjogja sempat mewawancara Mochtar via pesan pendek. Mereka tidak hanya cerita soal tur tetapi juga tentang sekian perubahan yang Mochtar lakukan.

Halo Moctar, senang rasanya bisa tanya-tanya. Maaf banget via teks. Oh iya sebelum ngobrol soal tur, ada beberapa pertanyaan soal band ini lebih dulu. Apa kabar Moctar hari ini? Siapa dan apa kalian sekarang dibandingkan dengan kalian yang dulu?
Halo Musikjogja, sebelumnya terima kasih banyak sudah menyimak Moctar. Kami merasa sangat terhormat bisa berkomunikasi dengan Musikjogja, jujur kami pengikut Musikjogja dari lama dan sangat menikmati tulisan-tulisan Musikjogja khususnya Mas Desta.
Moctar dalam keadaan baik, baru merilis album dan sedang antusias buat menjalani tur toko buku ini. Sebelumnya bernama Kopibasi, biasa membawakan puisi dari panggung ke panggung. Kopibasi dulu lahir dari komunitas sastra, memainkan musikalisasi puisi dengan musik yang lugas.
Kini, Moctar hadir dan memainkan musik yang tak melulu berangkat dari teks puisi. Sedang belajar sesuatu yang baru bagi kami, yaitu kelindan berbagai hal yang disebut pop. Hal yang ternyata cukup challenging buat kami. di papan tulis studio kami menyebut “Post Poem want to Pop Once” yang mungkin bisa mewakili semangat Moctar sekarang.
Aku kaget dan jujur saja senang dengan perubahan musik Moctar. Kalau boleh tahu apa momen spesifik yang jadi perubahan ini? Apakah juga ini tanda Moctar adaptif terhadap perubahan di panggung musik sekarang?
Kalau momen spesifik yang bisa menandai perubahan Moctar itu mungkin terjadi saat penggarapan album baru “Periodik”. Lewat album itu kami ingin lebih relevan dengan semangat zaman dan apa yang kami tulis bisa lebih berterima oleh pendengar yang lebih luas. Di saat penggarapan album kebetulan juga kami sedang suka dan asyik mengulik suara-suara baru, mencoba hal-hal yang sebelumnya belum pernah kami mainkan. Betul, harus adaptif. Sebab menurut kami karya apa pun harus selalu bisa mewakili keresahan generasinya. Kami banyak belajar dari puisi. Puisi saja berkembang dan akan selalu mewakili zamannya, masa kami malah menghindar hehehe.
Apa yang masih kalian pertahankan dan terus diinjeksikan dari Kopibasi ke Moctar?
Yang akan kami pertahankan tentu saja kultur kekeluargaan dalam band, meski diksi kekeluargaan ini kerap dikritik oleh khalayak sebagai sesuatu yang “toxic”, tapi menurut kami semangat kekeluargaan atau kolektif sangat penting. Hal yang wajib dari Kopibasi sampai jadi Moctar adalah bercerita. Kami selalu menyempatkan berkumpul hanya untuk bercerita dan guyon, bahkan mungkin itu lebih rutin daripada latihan.
Ceritain momen penemuan musik yang sekarang dong plus proses kreatifnya bagaimana? Apa yang seru dari kolektif ini sekarang?
Musik yang ada di album “Periodik” awalanya hanya keisengan eksplorasi intrumen baru, mulai dari Mathor yang tiba-tiba beli Conga baru kemudian mendapat ilham kalau perlu ditambah synth lantas kita coba padu padankan.
Pradesta, gitaris kami juga begitu, kebetulan beli gitar baru, sebelumnya biasa memainkan gitar akustik, dan ingin eksplor di gitar elektrik. Jadilah saling silang rajut merajut apa yang bisa dimainkan ya digaskan. Penemuan yang tak terencana, sebenarnya. tapi kami cukup hepi dengan fakta ini, bahwa kami tidak pernah berhenti di satu permainan. Mungkin di album selanjutnya musik moctar akan lebih rock, latin, atau psychedelic. Kami tidak menutup kemungkinan apapun.
Lantas apakah musik yang sekarang adalah eksplorasi atau memang benar-benar arah baru?
Bisa dibilang hasil ekplorasi dan kami merasa harus patuh pada lirik. Jadi sebetulnya yang kami inginkan adalah lebih bercerita, bagaimana musik mengantarkan cerita dengan baik. Semua lirik ditulis oleh Mathorian. Jadi seperti yang sudah diungkapkan di atas, kami tidak akan membatasi apapun. Kalau ditanya apakah musik Periodik ini adalah arah baru bagi Moctar, jawabanya mungkin iya tapi kami tidak akan menolak kebaruan ke depannya.
Album “Periodik” bisa dibilang catatan personalnya dari tahun ke tahun sekaligus juga merangkum bagaimana Moctar dari tahun ke tahun. Pengerjaan album ini juga tergolong sangat cepat, mulai dari Mathor bercerita dan menyodorkan tulisannya di bulan November 2025 lantas kami garap sambil nongkrong di Buku Akik, pada bulan Desember semua lagu sudah jadi dan mulai rekaman, di pertengahan Januari 2026 kami rampung menyelesaikan rekaman di Catpaws Lab.
Ceritain soal ide tur ini dan kenapa sih toko buku? Apa output yang kawan-kawan harapkan dari tur ini?
Soal Tur “Di Toko Buku,” Sebenrnya alasannya sangat personal, pertama karena kami lahir dan tumbuh dari ruang-ruang yang dekat dengan buku. Jadi sederhananya, inisiasi tur pentas dari toko buku ke toko buku ini adalah bentuk penghormatan kami terhadap toko-toko buku. Terhadap ruang yang banyak menginspirasi kami dan khalayak ramai. Tidak berharap banyak, tapi siapa tahu ini bisa makin mendekatkan scene buku dan musik.
Apakah buku dan selingkarnya masih menjadi zona nyaman buat Moctar saat ini?
Tentu, dan kami pikir akan selamanya dekat dengan buku. Tapi apakah ini zona nyaman? Sebenarnya saat tak nyaman sekalipun, isnya Allah kami istiqomah berada di dekatnya.
Moctar bakal menyajikan gig yang seperti apa di toko buku? Apakah ada kejutan yang sudah disiapkan?
Jujur sampai sekarang kami sendiri sudah terkejut dengan ide tur di toko buku ini. Jadi sejak dalam ide tur ini sudah mengejutkan, minimal buat kami sendiri. Jadi teman-teman mungkin akan melihat bagaimana usaha kami turut mengakrabkan toko buku, ruang yang sebelumnya cukup asing bagi panggung musik. Memang bukan hal baru, beberapa orang sudah pernah pentas di toko buku, tapi tur khusus di toko-toko buku sepertinya sesuatu yang cukup mengejutkan.








Leave a Reply