Damai di Butulan Cetak Ulang EP Akadama & The Yoyo Connection

Damai di Butulan Cetak Ulang EP Akadama & The Yoyo Connection

Design dan tata letak mengalami perkembangan sehingga semakin enak dibaca

Design dan tata letak mengalami perkembangan sehingga semakin enak dibaca

Damai di Butulan, kolektif literasi berbasis teks di Makamhaji, Sukoharjo, merilis ulang mini album berbentuk buku mini: Rapakadabra dari Akadama & The Yoyo Connection. 50 eksemplar buku mini setebal 64 halaman telah naik cetak dan rencananya akan dirilis di Record Store Day (RSD) chapter Jogja 25-26 April 2026 di XT Square.

“Alasannya simpel. karena kami fondasinya di teks, dan EP mereka ini mengedepankan teks juga. Lagipula jarang ada rilisan album, yang tidak hanya berisi musik tetapi juga esai dan review,” kata Nai Rinaket mewakili pihak Damai di Butulan.

Isi mini album mengalami perkembangan. Di cetakan ke-2 ini Nai dan Hans memperbanyak foto-foto dari band bergenre pop berbalur rap itu. Tata letak dan layout juga mengalami perkembangan sehingga mini album ini lebih enak dibaca.

“Damai di Butulan sudah paham betul sosiologis dan psikologi pembaca sehingga kami percaya sepenuhnya pada mereka,” sambung Catur ‘Yoyok’ Kurniawan, pembetot bass Akadama & The Yoyo Connection.

EP Buku Mini Rapakadabra

Di dalamnya pendengar bisa menikmati esai yang memuat potongan sejarah Jalan Colombo dan UNY belasan tahun lalu yang ditulis Prima Sulistya. Kemudian, analisis Dian Dwi Anisa, dosen UII, tentang lagu-lagu patah hati dalam mini album serta liner notes singkat Nuran Wibisono. Desta Wasesa (vokal) juga menyumbang tulisan tentang fragmen kehidupan, termasuk para mantan, yang membuatnya nekat bikin band dan EP.

Cetakan di bawah bendera Damai di Butulan juga masih menyertakan artwork lagu-lagu yang digarap para seniman yang berbeda, dari foto sampai gambar hitam putih. Para seniman yang terlibat adalah Fyza Ghaniya, Nai Rinaket, Aveores, dan Res Harris.

Tidak ada CD atau kaset pita dalam rilisan yang dibanderol Rp75 ribu itu. Sebagai gantinya, Akamada & The Yoyo Connection menggantinya dengan barcode yang akan membawa pembeli menuju drive penyimpanan lagu-lagu dalam EP berformat wav. Barcode ini spesial karena menjadi ruang penyimpanan lagu-lagu Akadama ke depannya.

“Jadi kalau ada lagu baru untuk single atau album selanjutnya yang belum dilempar ke DSP, bahkan video musik, mereka yang punya barcode ini akan bisa mendengarkannya terlebih dahulu,” sambung Yusak Nugroho (Drum).

 

Tentang Akadama & The Yoyo Connection serta Rapakadabra

Akadama & The Yoyo Connection adalah kolektif yang dibentuk Desta Wasesa aka Akadama bersama Catur Kurniawan dan Yusak Nugroho tahun 2024. Mereka memainkan pop rap yang banyak dipengaruhi dari musik-musik pop dan rap pertengahan 90an. Project Pop adalah influence terbesar mereka. Usai tampil di Cherypop dan sejumlah gigs lainnya, proyek ini mengajak Suryo Baskoro (gitar) dan Abdurrahman Hafis aka Rahahfis bergabung dalam band.

EP Rapakadabra sendiri rilis akhir tahun 2025 lalu dalam format fisik. Berisi lima lagu: Luka, Kampung, Orbamecium Rhizopora, Ninabobo(s), dan Kita. Saat ini mereka telah menyelesaikan video musik Kampung berformat mini dokumenter.