Sinar Matahari, Lagu Debut, dan Perjalanan Memahami Masa

Sinar Matahari, Lagu Debut, dan Perjalanan Memahami Masa

Sinar Matahari memungut banyak suara psikedelia Indonesia masa silam lalu menginjeksikannya ke masa kini.

Sinar Matahari memungut banyak suara psikedelia Indonesia masa silam lalu menginjeksikannya ke masa kini.

Saya yakin bahwa masa lalu, sejarah, sama misteriusnya dengan masa depan. Keduanya tidak pernah presisi, penuh ketidakpastian, dan interpretasi. Dengan kata lain, tidak pernah selesai. Musik contohnya, ia bukan teks kaku yang banyak ditemui di buku-buku melainkan potongan artefak emosional sebuah zaman.

Sinar Matahari, band neo-psikedelik menelusuri masa lalu untuk sampai ke masa depan. Mereka memungut keyakinan masa silam, bunyi demi bunyi, lalu membawa semangatnya ke masa kini, membalurnya dengan lapisan-lapisan atmosferik, membangun ruang gema, membubuhi lirik berbahasa Indonesia, lalu merilisnya menjadi lagu berjudul Bilamana Nirmala Tiba.

Komposisi musiknya menghadirkan lagi sebuah zaman di mana psikedelia Indonesia punya daya artistik yang seksi. Ada saripati melodi vokal Carel Simon (Golden Wing, sesepuh psikedelia Palembang), Ariesta Birawa Group, The Black Brothers, sampai Shark Move. Kumpulan masa silam itu diinjeksikan dalam dinding suara dengan pendekatan rekaman masa kini.

Judul lagu mereka sendiri, buat saya, seperti sesuatu yang ditujukan untuk masa depan. Sebab ia terdengar seperti pertanyaan yang datang dari sekian persoalan hari ini. Dan pilihan menggunakan bahasa Indonesia adalah keputusan berani, risikonya tinggi tetapi memberi pendengar pijakan untuk memahami sebuah perjalanan.

Di luar proses pembuatan lagu, saya rasa penataan lapisan suara lagu ini sedikit mengganggu kejernihan vokal. Ruang yang disediakan besar tetapi seperti ingin rebutan keluar. Namun, pada akhirnya Bilamana Nirmala Tiba patut diapresiasi karena benar-benar merepresentikan sebuah band yang tidak hanya berani menunjukkan identitas musikal tetapi juga menggelantar proses belajarnya.