Apa yang menarik dari Scantofia, proyek solo Daniel Bagas (Niskala), adalah pengamatan, perasan, dan konversinya terhadap objek dan narasi di balik peristiwa. Ia mengalami abstraksi sebelum dialihkan ke bunyi. Single baru berjudul ‘Ekstase’ pun mengalami proses serupa.
Ada baiknya kita membuka sedikit arsip lama Scantofia. Mini album berjudul Equator yang menyimpan sekian narasi sekaligus fakta gelap tentang negara. Operasi-operasi rahasia di ujung masa Orde Baru. Ia telanjangi data demi data kemudian dipasangkan ke abstraksi ingatan lalu dikonversi dalam komposisi yang menyeret IDM, jazz, jungle, trip-hop, ambient, hingga elemen tradisi.
Sebuah bangunan terbengkalai dengan gaya arsitektur Art Deco di Jalan Palem, Blitar, Jawa Timur adalah objek pengamatannya dalam ‘Ektase’. Ia memposisikan rumah itu bukan sebagai benda tanpa nyawa tetapi sebagai ruang. Seperti biasa, Daniel merangkai peristiwa demi peristiwa dalam kepalanya ketika membaca bangunan tua itu. Menjelajahi kemungkinan demi kemungkinan.
Buat saya, ia membacanya dari pivot seorang Kantian, bahwa ruang bukan objek nyata di luar kepala, melainkan struktur dari pikiran manusia untuk mengatur dan memahami rangsang sensorik. Hasilnya, tidak ada struktur lagu konvensional seperti verse-chorus-verse. ‘Ekstakse’ mengalir bebas, berubah arah secara tak terduga, atau menggunakan distorsi tekstur yang tidak biasa dalam konteks hari ini.
Secara keseluruhan, single yang dilengkapi dengan video musik ini tidak akan terdengar seperti musik elektronik klub malam yang bising—meski masih bisa dipasang di sana— tetapi juga bukan musik meditasi yang membosankan, laiknya sebuah rumah dengan ruang-ruang yang hidup. Yang tidak melulu untuk meluruskan punggung.








Leave a Reply