Smarai Bawa Patah Hati ke Level yang Berbeda
Dok. Smarai

Smarai Bawa Patah Hati ke Level yang Berbeda

Smarai rilis album penuh dan ‘Optimis’ banyak mendapat sorotan

Smarai rilis album penuh dan ‘Optimis’ banyak mendapat sorotan

Akhir-akhir ini saya merasa tema-tema patah hati terasa membosankan. Begitu-begitu saja, sebagian besar diperas dari kompleksitas sosial: orang ke-3, restu orangtua, manipulasi kasih sayang, sampai gamang yang tiba-tiba datang. Dinarasikan—dalam sudut pandang semantik—dengan trik asosiatif dengan metafior yang diharapkan mampu mewakili rasa pedih.

Lalu datang Smarai. Band yang diperkuat para personel yang akrab dengan pop rock dua dekade lalu ini membawa patah hati ke level yang lain. Memang tidak semua lagu dalam album Semai, hanya lagu terakhir: ‘Optimis’ bersama film pendek dan video musik yang memberi kesan macam itu.

Ketiganya buat saya memberi tahu bahwa patah hati terbesar seseorang laki-laki bukan ketika ia dikhianati. Bukan pula ketika cintanya ditolak. Tetapi ketika perempuan yang ia perjuangkan dengan seluruh tenaganya akhirnya menyerah karena tak mampu mengalahkan kemiskinan.

Lagu ini membawa perbincangan yang akrab di media sosial. Ketika cinta harus tunduk pada harga beras, biaya kontrakan, dan skincare. Merekam tentang konstruksi sosial, di mana laki-laki selalu diajarkan untuk menjadi benteng. Padahal tak semua benteng dibangun dari batu. Ada yang dibangun dari bata yang gembur, tidur yang hilang, dan kecemasan setiap akhir bulan.

Dan ketika benteng itu runtuh, tak ada yang benar-benar peduli. Dunia hanya akan berkata: dia gagal menjadi laki-laki. Dari video musik dan lagunya, saya rasa mungkin cinta memang hanya mewah bagi mereka yang kenyang. Orang miskin harus terbiasa dengan kehilangan. Termasuk kehilangan seseorang yang dulu ia kira akan tinggal selamanya.

Sementara itu album penuh mereka dikemas dengan kesan pop rock yang tata suaranya disesuaikan dengan telinga pendengar sekarang. Kata ‘rock’ di sana tidak disajikan secara berlebihan. Pun aransemen yang dibalur instrumen gesek agar terkesan lembut. Ia memperkuat narasi.

Apakah album ini akan menjadi populer atau tidak, dalam konteks dan situasi kekinian, tergantung dari seberapa kuat dan jauh jangkauan promosi mereka. Namun, buat saya, Smarai telah memberi gambaran tentang patah hati yang tidak begitu-begitu saja.