Rahhafis, rapper yang tumbuh besar di kota Medan dan Jogja merilis album penuh berjudul “Hustle Home” ke platform dengar digital Senin (9/3/2026) kemarin. Rapper bernama asli Abdurrahman Hafis itu memproduksi lalu mendistribusikan album berisi sepuluh track itu secara mandiri.
“Bikinnya tiga bulan, saya mixing mastering sendiri lalu dirilis dengan label mandiri Shiny Nasty,” kata Rahhafis.
Hampir seluruh lagu dalam album penuh adalah replikasi kehidupan bersama orang-orang yang pernah dan selalu di sampingnya. Mereka yang memperingan langkahnya. Sebab, sejak memutuskan hijrah dari Medan ke Jogja, yang bisa ia lakukan hanya melangkah. Pijak demi pijak. Langkah kecil, yang membawanya menuju “Hustle Home”.
Ia datang dari Medan dengan ransel kecil dan kepala yang penuh suara. Suara kota yang bercampur garam di pelabuhan, suara orang-orang yang hidup keras di terminal. Ia tidak membawa banyak harapan waktu itu hanya keyakinan aneh bahwa Jogja bisa mematangkan mentalnya.
Di Jogja, ia bertemu orang-orang yang tidak pernah ia kenal tetapi entah mengapa memperlakukannya seperti kawan lama. Ada yang memberi pekerjaan. Ada yang meminjamkan mikrofon. Ada yang sekadar duduk mendengar ketika ia mencoba merapalkan hidupnya dalam rap.
Dari Medan dan Jogja, ia belajar dua hal: manusia tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. Yang kedua, manusia sering lupa mencatat siapa saja yang pernah menyalakan lampu di jalan yang gelap. Dan album penuh ini lahir dari kesadaran itu. Bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan catatan perjalanan—seperti buku harian yang ditulis dengan beat, napas, dan sedikit pertanyaan pada nasib.
Setiap track adalah potongan kota, potongan wajah, potongan malam yang terlalu panjang. Ia tidak menulisnya sebagai monumen untuk dirinya sendiri. Sebab Rahhafis tahu, hidup terlalu sementara untuk dipamerkan. Album itu lebih seperti arsip kecil: tentang orang-orang yang pernah percaya padanya ketika ia sendiri hampir berhenti percaya.
“Saya tidak tahu bagaimana nasib album ini ke depannya, apakah akan populer atau tidak tetapi rasanya menjadi arsip kecil saja sudah lebih dari cukup,” sambung rapper yang turut menjadi ujung tombak Akadama & The Yoyo Connection.
Sehingga, sebagian orang turut menyumbang suara dan perjalanannya. Lilyo dalam Waras di Dunia Gila, Unae di I Dont Wanna Fall In Love, Desta Wasesa (Akadama) dalam Z dan Hamba Menghamba—yang turut menyeret nama beatmaker sekaligus produser musik Blackstocking dan Akadama & The Yoyo Connection: Catur Kurniawan.
Album penuh itu turut ia rilis dalam format fisik berbentuk tabloid. Di tabloid itulah Rahhafis menceritakan secara utuh tentang perjalanannya, album penuhnya. Selain itu album ini juga dilengkapi dengan merch yang bisa disimak bahkan dipesan melalui akun instagram pribadinya: @abdurrahmanhafis.
Lantas, apa selanjutnya? Rahhafis tahu perjalanan belum selesai. Kota-kota lain menunggu—dengan malam-malam baru yang akan menguji seberapa jauh ia sanggup bertahan. Dengan panggung-panggung yang barangkali asing. Dan Rahhafis tampaknya siap.
Sebab bagi seorang rapper yang tumbuh dari perjalanan panjang, musik bukan lagi soal terkenal atau tidak. Musik hanyalah cara paling jujur untuk berkata kepada dunia: bahwa kita pernah hidup, pernah jatuh, dan tetap memilih berjalan.









Leave a Reply