Talks Baru Aja Collective: Media dan Pop Kultur Setempat
Dok. Baru Aja Collective

Talks Baru Aja Collective: Media dan Pop Kultur Setempat

Menjadi Jogja atau Jakarta itu nggak penting. Sebab, tiap kota punya identitas yang memungkinkan menjadi akar pop kultur masing-masing

Menjadi Jogja atau Jakarta itu nggak penting. Sebab, tiap kota punya identitas yang memungkinkan menjadi akar pop kultur masing-masing

Baru Aja Collective, kolektif seni asal Magelang bikin program bincang-bincang di event Road To Baru Aja Gigs Vol. 1 selama dua hari, Sabtu (9/5/2026) sampai Minggu (10/5/2026). Program yang dibabar di Serikat Coffee Magelang itu ngomongin persoalan di pop kultur hari ini. Salah satunya musik.

Tema hari ke-2 cukup seksi. Ngomongin soal kultur musik setempat dan komponen ekosistem di dalamnya bareng Iwe Ramadhan (Head Creative Prambanan Jazz) dan Desta Wasesa (founder musikjogja.id dan @musikjogja). Mereka ngobrolin banyak hal, dari event, kolektif, sampai media setempat.

Bincang-bincang yang dipandu Niken Reswari itu dibuka dengan cerita Magelang hari ini dari sudut pandang pelaku musik dan kolektif. Magelang yang tumbuh dan semakin mengasyikkan. Dari sana lahir pertanyaan, bagaimana cara agar skena sampai industri kreatif Magelang bisa seperti dua kota yang mengapitnya: Jogja dan Semarang.

Bagaimana sebuah kolektif atau warga menguliti kotanya sendiri adalah portal menuju banyak hal yang diinginkan, termasuk industri kreatif. Iwe bilang bahwa riset adalah jawabnya. Bisa dimulai dari mana saja, seperti riset demografi, sosiologi, budaya, kuliner, dan lain sebagainya. Dari sana akan ditemukan persoalan dan data yang bisa mempertajam predikat Magelang sebagai kota kreatif.

“Buat saya, menjadi Jogja, Semarang, bahkan Jakarta itu tidak penting. Istilah ibu kota musik itu juga nggak penting, karena konsep itu—terlebih di Indonesia kerap menganak tirikan kota lainnya dan sejarah membuktikannya demikian. Setiap kota punya kekhasannya sendiri yang bisa menjadi akar budaya pop setempat. Punya identitasnya sendiri. Bagaimana menemukannya memang lewat riset,” sambung Desta Wasesa.

Dok. Baru Aja Collective

Dari sana mic segera dioper ke audiens karena atensinya luar biasa. Ada yang menggugat persaingan antarkolektif di sebuah kota. Situasi seperti ini agaknya tidak hanya terjadi di Magelang tetapi juga kota-kota lainnya. Dengan kata lain warisan pandemi di mana satu kelompok lebih nyaman dengan kelompok lain. Polarisasi politik sejak Pilpres 2019 menambah keruwetan ini.

“Mau nggak mau harus membuka diri dan kolaborasi satu sama lain. Mindsetnya diubah, bisa bikin pertemuan dalam bentuk FGD atau apa pun yang penting niatnya untuk membangun pop kultur setempat,” papar Iwe.

Dari sana, obrolan beralih ke topik media. Bagaimana menjaga konsistensi media dan peran mereka membangun identitas kolektif sampai trik mengatasi komentar-komentar miring di media sosial. Persoalan media hari ini cukup banyak dan ruwet sebenarnya apalagi melihat banyaknya media yang lahir demi alasan eksistensial, memburu tiket saja dan menjadikan feed sebagai mading saja.

“Kita tuh sering bingung mau ngapain lagi karena acuannya algoritma. Sering berubah dan capek mengejarnya. Validasi informasi jadi nomor sekian, yang dikejar akhirnya cuma eksposurnya saja,” kata Desta.

Politik Keredaksian (Polred) adalah acuan dan kompas dalam bikin media. Apakah media yang kamu bikin menggunakan metode jurnalistik atau tidak. Semuanya dibahas, dari bentuk sampai konten. Semua harus berdasar dan disesuaikan dengan kekuatan. Namun, apa pun bentuk dan sifat medianya, fondasinya harus demokrasi dan benar-benar memperlakukan verifikasi dasar.

Contoh verifikasi dasar adalah validasi partisipatif. Dengan memberikan keterangan jelas: foto milik siapa, teks siapa yang tulis atau dari mana, dan sumber laporan. Transparasi adalah sumber verifikasi dasar. Selanjutnya adalah berani mengoreksi kesalahan, di kolom komentar atau di postingan baru.

Dok. Baru Aja Collective

Perbincangan tambah seru usai azan Maghrib. Topik meluas ke banyaknya event gagal dan formula menyusun line up dalam sebuah festival musik. Keduanya merupakan pertanyaan audiens juga. Iwe memaparkan banyak event gagal karena sejumlah sebab. Umumnya tidak mempersiapkan modal yang cukup, tidak punya identitas yang jelas, dan mitigasi.

Yang perlu diingat adalah promotor, EO, atau kolektif dan pembeli tiket sama-sama mendapat perlindungan hukum. Tiket bukan sekadar akses masuk sebuah event tetapi juga bentuk konkrit perjanjian hukum antara promotor dan penonton ditilik dari UU Perlindungan Konsumen.

Soa menyusun line up, Desta dan Iwe sepakat bahwa hal tersebut adalah seni menyeimbangkan selera promotor dan pembuat program dengan anggaran, selera audiens, dan visual artistik sebuah event dan festival sehingga ditatah dengan hati-hati dan penuh pertimbangan yang tidak hanya berdasar feelling tapi juga data.

Di akhir perbincangan, Niken menyimpulkan bahwa Magelang dan kota-kota lainnya sebenarnya punya segalanya dan setiap komponen ekosistem kreatifnya mustahil jalan sendirian. Tidak ada opsi lain selain mengulitinya selapis demi selapis agar kreativitas dan budaya setempat tidak terpanggang tinggal rangka.