Poernama. Sejak merilis “Karena Semua Nggak Harus Sekarang”, solois asal Jogja ini konsisten mengusung musik pop rock yang kondang akhir 90an. Tatanan musik dan vibes hasil penyelerasan suaranya bikin millenia mungkin ingat nama-nama beken macam Streovilla, Orrie, Shifter, sampai The Pixel.
Apa yang unik dari pop rock tahun segitu, apalagi yang dirilis banyak label baru saat itu adalah narasi dan eksplorasinya yang bebas. Lirik menceritakan tentang apa yang terjadi di sekitar hari itu. Nggak melulu soal cinta, tapi juga pertemanan, filsafat, bahkan mistifikasi di sekitar. Mereka mengeluarkan tema-tema yang tahun 90an berpotensi disortir Departemen Penerangan.
Poernama memeras karakter pop rock Indonesia itu dalam setiap produknya. Kali ini lewat mini album bertajuk “Nggak Apa-apa untuk Tidak Baik-baik Saja”. Personel Arsa Wastu ini menangkap kegelisahan di sekitar, tentang ukuran dan nilai-nilai yang berkembang di media sosial. Yang memaksa orang untuk menjadi seseorang.
Tema-tema dan liriknya banyak diperbincanganan di media sosial hari ini, terutama mereka yang senang terlibat gender-war. Risikonya ada, tapi seperti halnya kawan-kawan di awal tahun 2000an, bodo amat.
Mini album itu memuat tiga lagu yang dibangun suka-suka. Cuek. Dari struktur lagu pada umumnya sampai mencoba elemen elektronik—meski kontras dengan karakter suaranya. Untuk tata suara, rasanya “Karena Semua Nggak Harus Sekarang” jauh lebih baik dan lebar sehingga suara setiap instrumen dan elemen terdengar jelas.








Leave a Reply