Ada tiga perkara yang saya temukan dalam single ‘Yang Kau Tanam Yang Anakku Tuai’ Burssa. Pertama, soal bagaimana mereka membangun musik. Band rock Wonosari, Gunungkidul itu, membangun aransemen dari perasan blues rock kental yang populer akhir 90an.
Sebut saja nama-nama macam Lance Lopez dan Richie Kotzen, para peramu blues edge rock yang tebal beralur funk dengan slide gitar yang cukup membakar. Mungkin dari situ Burssa membangun fondasi musik mereka.
Dari sana, kita juga bisa membaca tanda bahwa frasa ‘band bapak-bapak’—yang mereka tuliskan untuk mendefinisikan band dalam rilisan pers—bukan sekadar gimmick. Dengan kata lain, mereka meramu musik yang populer saat mereka remaja dahulu.
Perkara kedua, tema yang ditulis secara induktif. ‘Yang Kau Tanam Yang Anakku Tuai’ punya muatan kritik politik dan sosial. Mereka memuntahkannya setelah mendapat pantulan dari mata anak-anak mereka. Ramalan, bahwa anak-anak mereka akan tumbuh di tengah beton dan baton. Menjalani hidup yang jauh lebih keras di bawah rezim brutal.
Ketiga, soal politik itu sendiri. Kritik itu disampaikan dengan lembut. Teksnya sendiri terbaca semacam esai yang cenderung puitik. Barangkali mereka sadar, ada risiko besar bila kritik itu disemburkan lewat kalimat atau seru yang menyalak: teror, represi, dan kata ganti lainnya.
Single ‘Yang Kau Tanam Yang Anakku Tuai’ sendiri dirilis bersama video musik ke kanal Youtube mereka.






Leave a Reply