Never Mind The Borok: Res Harris, Sex Pistols, dan Sindiran Mematikan
Foto: @yannisnothing

Never Mind The Borok: Res Harris, Sex Pistols, dan Sindiran Mematikan

Pameran mini Res Harris ini bikin kita mengacak-acak pikiran penikmat seni!

Pameran mini Res Harris ini bikin kita mengacak-acak pikiran penikmat seni!

Never Mind The Borok itu plesetan dari album perdana Sex Pistols: Never Mind The Bollock, Here’s the Sex Pistols. Tidak ada alasan, cuma main plesetan saja.

Begitu kata Res Harris, bassist band punk SKHU, komikus sekaligus perupa asal Jogja menjawab pertanyaan kawan-kawan media yang datang ke pameran mininya: Never Mind The Borok di Nomore Gallery Wijilan Selasa (4/2/2026) malam. Memang, dari dulu—sejak ketemu di Kampung Buku Jogja 2017 kalau gak salah—dia jago plesetan dan bikin-bikin proyek bikin hati riang.

Salah satunya wajah gambar tidak mirip. Kita bisa jadi ganteng banget atau malah sebaliknya ketika Harris mengendarai sketsa wajah tidak mirip itu. Penerima gambar selalu riang gembira saat melihat hasilnya. Dengan kata lain, Harris mampu membaca ‘kebutuhan’ orang di hadapannya.

Beberapa pengunjung pameran menikmati karya Harris (Foto: @Yannisnothing

Balik ke pameran tunggalnya deh. Keriangan serupa terpancar di wajah pengunjung pameran di galeri mini yang terletak di tengah perkampungan warga itu saat pembukaan. Tawa dan pisuhan—dalam konteks bahasa sebagai ekspresi—mereka yang tengah mengamati 21 gambar dalam geleri terdengar jelas.

Barangkali mereka menangkap kode dalam gambar-gambarnya. Mungkin ada yang merasa tersindir dengan kontennya. Sebab, karya-karya Harris tidak hanya membawa muatan karikatur klasik yang dikembangkan Annibale Carracci tetapi juga menjadikannya medium kritik terhadap isu sosial, budaya, dan politik secara satir.

Meski cuma plesetan dari album Sex Pistols, rasanya, dalam konteks sosiopolitik, saya seperti mendapatkan bentuk lain dari album musik yang dirilis tahun 1977 itu. Album yang memberi tahu tentang feodalisme yang ngeos brutal dengan kapitalisme di tengah masyarakat Inggris, dari ‘Holiday of The Sun’ sampai ‘God Save The Queen’ misalnya,

Di pameran itu Harris memapar kenyataan sehari-hari, yang telanjang sampai yang disembunyikan dalam gelap. Yang menampar. Harris menghadirkannya dengan cara paling sederhana, seterang-terangnya. Sehingga, kita tidak sekadar diajak tertawa riang tetapi juga melihat ke dalam sendiri: sebodoh apa kita. Semunafik apa kita. Seabai apa kita melihat sekitar dan borok kita sendiri.

Pamerannya masih berlangsung sampai 3 Maret 2026 lho. Sikat!!