Layaw datang tidak hanya datang telanjang lewat album konseptual berjudul Tahta Api. Band dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (Kalteng) itu juga merepresentasikan konsep musik: mentah dan gelap, lewat visual dengan banyak elemen pendukung konsep album bahkan band secara keseluruhan.
Dari pemilihan warna, font, busana, hingga foto—yang buat saya ekspresif—memperlihatkan mereka tidak main-main ketika memutuskan masuk lebih dalam ke rimba musik Indonesia. Mereka seperti punya kesadaran penuh bahwa visual tak bisa lagi dipisahkan dengan bunyi.
Musik Layaw, terutama dalam album penuh itu imersif. Dengan kata lain tidak untuk semua pendengar. Tahta Api bukan album untuk didengarkan santai sambil tidur-tiduran atau scroll medsos. Buat saya album berisi 12 track itu diperuntukan untuk pendengar yang menggemari suara yang berbeda. Pendengar yang mau memahami bahwa ekspresi tidak harus selalu sama—bahkan tidak perlu juga berbeda.
Mereka tidak mencoba menjadi band rapi secara teknis. Mereka mengedepankan sensasi, intensitas, dan suasana menuju gelap nyaris sempurna. Manifestasi dari subgenre rock macam doom, grunge, dan sludge—yang tak mau berkompromi pada persoalan teknis. Tema-tema internal disembur dengan vokal kasar mentah.
Apa yang mereka lakukan sebenarnya bukan hal baru. Rabu, pernah merilis energi mentah serupa sebelas tahun lalu dan menjadi salah satu album terbaik versi Rolling Stone Indonesia. Sehingga, jangan menganggap enteng album Tahta Api.
Album yang sudah rilis ke banyak platform digital ini pantas masuk koleksi atau playlistmu jika ingin mendapat pengalaman dengar yang berbeda atau tengah mencari jeda dari suara-suara yang mulai serupa.






Leave a Reply