Live recording punya beberapa kelebihan. Bagi saya, yang terdepan adalah mudah menyebarkan energi, spontanitas, dan kesan pertunjukan secara langsung. Selain itu produksi macam ini berpeluang besar memberikan ‘keaslian’—di mana setiap player menjadi manusia seutuhnya—yang sulit ditiru rekaman multi track dalam studio.
Band reggae Jogja, Rastakrina, memproduksi album penuh bertajuk “Jahbless Krina” dengan cara seperti itu. Tujuh dari sembilan trek direkam secara langsung. Percampuran suara, dari brass muram ala Aswad African sampai protes samar macam Bunny Wailer di era Blackheart Man ditangkap dengan baik oleh Alan Daru Wicaksana.
Ini album reggae klasik. Jamaican wave yang muram. Untuk khalayak ramai yang nyaris di setiap pertunjukan dikelilingi tentara dan preman pasar.








Leave a Reply