Halaman Pertama: Kelahiran Paulus Neo yang Kedua
Paulus Neo

Halaman Pertama: Kelahiran Paulus Neo yang Kedua

Lagu ini monumen sederhana untuk perasaan yang pernah besar

Lagu ini monumen sederhana untuk perasaan yang pernah besar

Sebelum “Cuaca Hari Ini” dan ‘Halaman Pertama’—yang akan rilis 15 Februari 2026–saya tidak menemukan sisi Paulus Neo yang melankolis sekaligus romantis. Saat berbincang tentang musik di depan umum tahun 2018 lalu mabuk di malam-malam panjang di tengah gig dan tongkrongan, sampai ngeband bareng Borje—bahkan kolaborasi di Akadama & The Yoyo Connection—saya mengenalnya sebagai kawan yang cenderung menyembunyikan dua sisi itu.

Di depan kibor dan piano pun demikian.  Ia nakal. Jarinya ke mana-mana. Mengajak pendengar ke banyak era. Berkelok. Pamer! Haha.

Kemudian datanglah album penuh yang ia perkenalkan di tengah dusun. Di gereja. Di rumah. Diikuti lagu baru berjudul Halaman Pertama yang digarap bersama Leilani Hermiasih dan Giovani di Kuaetnika. Dan seketika Neo yang saya kenal serupa udara: tak terlihat tetapi masih terasa di pori-pori.

Neo memperlihatkan sisi melankolisnya. Tipis di “Cuaca Hari Ini” tetapi perlahan menebal di ‘Halaman Pertama’. Ia tidak memosisikan diri menjadi musikus lapar bragging. Tidak lagi. Neo menggeser pivot yang membuat saya cenderung percaya bahwa lagu barunya itu adalah kelahirannya yang kedua.

Artwork Halaman Pertama

Saya menafsirkan ‘Halaman Pertama’ sebagai lagu cinta. Dan cinta, di dalam lagu itu, bukan lagi soal memiliki. Ia lebih menyerupai sebuah catatan kaki bahwa sang tokoh dan kekasihnya pernah menjadi pusat tetapi besok menjadi ruang sunyi tempat kenangan berjalan mondar-mandir.

Musiknya bergerak seperti langkah seseorang yang pulang tanpa tergesa. Tidak ada amarah, tidak ada tuntutan. Yang tersisa hanya penerimaan: bahwa segala yang pernah menyala, pada akhirnya akan belajar menjadi abu—dan dari abu itulah, barangkali, kehidupan lain akan tumbuh.

‘Halaman Pertama’ seperti membaca surat lama yang tintanya memudar, namun maknanya justru semakin jelas. Di antara bait-baitnya, saya menemukan pengakuan bahwa cinta pernah menjadi kompas, meski kini berlawanan arah. Bahwa kebersamaan pernah utuh, meski sekarang ia hanya tinggal sebagai kemungkinan yang tak jadi.

Maka lagu ini menjadi penanda kecil dalam hidup seseorang. Sebuah monumen sederhana untuk perasaan yang pernah besar. Dan seperti catatan harian yang ditutup perlahan, lagu itu mengakhiri satu bab tanpa drama. Neo membuka halaman baru dengan keheningan. Sebab dalam diam itulah, manusia biasanya menemukan keberanian untuk memulai lagi.