“Orkes Ndugal”. Begitu judul mini album Mata Panda yang rilis baru-baru ini. Berisi enam track yang terkesan menggelitik. Liriknya bahasa Jawa. Menyingkap apa yang sebenarnya terjadi dengan anak-anak muda pinggiran kota. Tentang mereka yang terus berusaha bahagia di tengah tanah sempit dan tagihan yang menghimpit.
‘Ndugal’ masuk dalam kelompok kata sifat. Punya sedikit kesamaan dengan ‘ndableg’. Dianggap sebagai tindakan atau perilaku yang menyalahi aturan atau norma yang berlaku. Dalam konteks mini album mereka, kata itu buat saya adalah bentuk konfrontasi langsung pada sistem tingkat tutur bahasa bahkan laku yang kerap diposisikan menjadi kompas moral masyarakat Jawa
Bukan hal baru karena model seperti ini sudah ada sejak tiga dekade lalu—mungkin lebih—di Jogja. Di mana bahasa adalah ekspresi yang punya peneterasi dalam terhadap medium lain. Salah satunya ke musik berfondasi beat elektronik. G-Tribe, Jahanam, dan Jogja Hiphop Foundation (JHF) contohnya.
Makna ‘ndugal’ lainnya—masih dalam konteks EP Mata Panda—adalah mendobrak batas-batas antara musik melayu dan serapan. Tradisi dan modern. Mereka memeras semuanya, dari boombap, keroncong, sampai orkes. Sangi bahkan terkesan mengganggu karena mereka tak peduli dengan ritem bass—lalu memuntahkan persoalan dengan bahasa yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Enam track, dari Bimsalabim sampai Betari (Benci Tapi Rindu) menampilkan realita apa adanya. Tentang penghasilan yang tak seberapa, gepengan di saku celana, sampai solusi yang mengantar pada masalah lainnya: pinjaman online Mereka tidak menggurui. Tidak mengkritik. Mereka hanya menertawakan setiap persoalan sosial yang akrab dengan kaum pinggiran di Jogja.
Dari sana saya ingat Markesot, tokoh dalam tulisan-tulisan Emha Ainun Najib. Markesot bukan sekadar tokoh fiksi. Ia adalah ide, bentuk tertinggi dari kesadaran sekaligus kerendahan hati, di mana seseorang berani mengakui ketidaksempurnaan daripada menyombongkan kebenaran. Markesot adalah personifikasi manusia original, menertawakan persoalan, termasuk dirinya sendiri di tengah dunia gila.
Dan Mata Panda tampaknya adalah murid Markesot, setidaknya mereka menganut filosofinya selama 18 menit.







Leave a Reply