Kelas menengah di kota-kota besar, terutama Jogja, punya kecenderungan frustasi yang besar. Dari tahun ke tahun, mereka dibentuk menjadi motor konsumsi. Di sisi lain pendapatan mereka tidak stabil.
Kelas menengah, apalagi menengah ke bawah sulit mengakses pinjaman formal, dan memiliki posisi tawar rendah di pasar tenaga kerja sehingga memperkecil peluang mereka naik kelas. Mereka menghadapi paradoks seperti ini: kalau mau naik kelas ya kerja keras—padahal upah jarang naik sedangkan harga sewa tanah, kos, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari naik tinggi.
Ditambah lagi generasi di kota-kota besar tidak bisa lepas dari wacana-wacana mistifikasi, sehingga mereka dipaksa semeleh.
Kondisi macam itu ditangkap anak-anak muda asal Jogja yang menamakan diri The Raw. Mereka memeras kondisi sosial itu dalam lagu debut berjudul “Beban Peluh” yang rilis baru-baru ini. The Raw menuangkan perasan sosial yang mereka lihat sehari-hari. Fakta bahwa kondisi sosial ekonomi hari ini tidak hanya dirasakan kalangan tua, tetapi juga anak-anak muda.
Dari POV musik, aransemen mereka dibangun dengan kecenderungan pop yang tinggi. Akor repetitif di atas perasan beat Punk. Dibuka dengan bunyi bass yang mudah diingat karena ramah di telinga. Lagu ini punya potensi besar menarik pendengar tetapi buat saya harus punya konsep tata suara yang terarah.
Namun, setidaknya lagu debut ini memberi tahu bahwa The Raw punya peluang di industri musik asalkan lebih jeli dalam memilih lalu mempresentasikan suara.





Leave a Reply