Portransmission: Dari Tajin Gula Merah sampai Jenny dan The Kick

Portransmission: Dari Tajin Gula Merah sampai Jenny dan The Kick

Talkshow berkonsep radio: Portransmission membincang banyak perkara di luar musik

Talkshow berkonsep radio: Portransmission membincang banyak perkara di luar musik

JRNY Coffee & Records kolaborasi sama Porta Hotel bikin talks berkonsep radio beberapa hari lalu. Talks berjudul Potransmission itu digelar di lobi hotel Porta. Desta Wasesa yang didapuk sebagai moderator membawakan talks bareng Luqman (vokalis The Peal) dan Bayu Kristiawan (politbiro Koloni Gigs) laiknya program radio tahun 90an. Daniel Bagas (Niskala) meramaikan konsep dengan perangkat DJ yang memutar lagu-lagu indie pop kekinian.

Benang merahnya musik. Tapi mereka nggak ngomongin musik melulu dalam talks sepanjang 75 menit itu. Topik obrolan dimulai dari kesehatan, soal hasil penelitian tentang generasi milenial yang terlihat lebih muda dari generasi z. Luqman membenarkan hasil penelitian itu sejauh pengalamannya.

“Iya juga sih, teman-temanku sebagian wajahnya tua-tua, badannya gede-gede, padahal baru kelahiran 2001 atau 2002, kenapa bisa begitu lho,” kisah Luqman.

Foto by Daniel Bagas

“Gizinya bagus zaman sekarang lho padahal. Zaman dulu tuh air susu mahal sehingga air tajin gula merah jadi solusi untuk bayi milenial sampai Y,” sambung Bayu.

Dari sana obrolan berkembang, berkecambah ke sana kemari. Dari ukuran-ukuran tentang percintaan di media sosial, horoskop, oufit penonton konser yang jauh lebih keren dari performer—Siddha Skandal tidak termasuk menurut mereka—sampai gaya berbusana para musisi yang ikonik. Semua dibahas apa adanya dengan hahahihi.

Soal outfit ikonik ini Luqman dan Bayu punya ceritanya sendiri-sendiri. Luqman terkesan dengan outfit perform anak-anak The Kick di awal-awal kepopuleran mereka. Jiwe dan kawan-kawan, cerita Luqman, brutal. “Pakai daster lah, ini lah itu lah, benar-benar membajak mata penonton yang datang. Keren dan ikonik menurutku,” kisah Luqman.

“Kalau aku paling ikonik Jenny, ketika Mas Farid pakai celana gambar tengkorak dari gambarnya sendiri. Itu paling memorable buat aku,” sambung Bayu.