Lab Talks: Relasi Antara Fans dan Seniman Musik
Foto: Mahendra Bayu Kusuma Aji (@mahenesia)

Lab Talks: Relasi Antara Fans dan Seniman Musik

City of Laboratory, kolektif musik asal Surakarta bersama Pasukan Babi Neraka fans sekaligus friendbase Down For Life menggelar talk show bertajuk ‘Peran Penggemar dalam Industri Musik’.

City of Laboratory, kolektif musik asal Surakarta bersama Pasukan Babi Neraka fans sekaligus friendbase Down For Life menggelar talk show bertajuk ‘Peran Penggemar dalam Industri Musik’.

Talk show yang dipandu Dewi Kinasih dan Dida Kurniawan digelar akhir Februari lalu di Shuga Bar Colomadu. Talk show menyeret Alby Moreno (vokalis MCPR), Desta Wasesa (musikjogja.id), serta Pasukan Babi Neraka yang diwakili Perwita dan Indra.

Fandom. Demikian tema talk show yang dibicarakan dalam kehangatan di tengah suhu dingin yang menggempur Karanganyar malam itu. Semua bicara, dikupas, tanpa sensor.

Fandom sendiri didefiniskan sebagai aktivitas yang menggambarkan kedekatan antara penggemar seniman yang dilandasi produk budaya. Adanya teknologi digital memudahkan interaksi keduanya.

Namun, ketika ditaruh dalam konteks industri musik yang mengedepankan nilai tukar, interaksi keduanya kadang hanya melibatkan jual beli. “Saya melihat seharusnya bisa lebih dari itu. Itulah kenapa kami lebih enak menyebut fans atau fansbase itu dengan friendbase. Dasarnya adalah pertemanan,” kata Alby Moreno.

Proses jual beli memang tidak bisa dihindari. Apalagi produk seniman dalam realita kekinian bukan hanya suara tetapi juga visual, merch, dan lain sebagainya. “Fans itu bagian penting tidak hanya bagi seniman tetapi ekosistem juga. Fans dan seniman bisa saling menyemangati, mendukung satu sama lain,” sambung Alby.

Foto: Mahendra Bayu Kusuma Aji (@mahenesia)

Peristiwa kekerasan yang dialami Sukatani baru-baru ini salah satu wajah relasi yang dimaksud. Para pendengar tidak hanya menyemangati Sukatani yang mengalami pemberedelan lagu dan identitas tetapi juga berani bersikap lewat banyak medium. Gelombang itu menyapu lini masa. Di Jogja bahkan ada gerakan lewat pameran visual.

“Pemberedalan seni itu sama tuanya dengan usia republik ini. Koes Plus, Genjer-Genjer, Gelas-Gelas Kaca Betharia Sonata, Garuda Patah Hati Jamphe Johnson, dan kini Sukatani. Pendengar musik kini tidak hanya sekadar menjadi angka di platform tetapi, betul yang dikatakan Aby, menjadi kawan seperjuangan,” kata Desta.

Dari kaca mata media, relasi antara fans dengan seniman memang berhubungan dengan ekspresi. Media, baik mainstream dan alternatif bukan sekadar menjadi jembatan tetapi mampu memberi pandangan sekaligus wawasan pada keduanya.

“Media mungkin bisa saja menangkap ekspresi musik yang berbeda dari seniman. Pandangan itu bakal memperkaya wacana untuk keduanya,” sambung Desta.

Pasukan Babi Neraka sendiri juga menjadi contoh kasus yang keren. Mereka terus terlibat dalam berbagai kegiatan Down For Life bahkan kerap membuat event sendiri. Pasukan Babi Neraka bukan friendbase pasif yang hanya mendengarkan dan
menikmati musik.

Perwita membeberkan kegiatan mereka juga tidak berhenti di apresiasi konten tetapi juga interaksi satu sama lain dalam banyak rupa. “Ada karaoke lagu Down For Life sampai bikin fans-art juga,” katanya singkat.

Di luar itu ada keajaiban yang dikisahkan Pasukan Babi Neraka. Musik, kata Indra, khususnya Down For Life itu ajaib. “Mendengarkan musik mereka setelah banting tulang itu nikmat. Capainya langsung hilang. Saya juga tidak tahu kenapa tetapi itulah faktanya,” pungkas Indra.