Nanti Bila Kau Dewasa: Menguji Balada Syabandi Iesmail

Nanti Bila Kau Dewasa: Menguji Balada Syabandi Iesmail

Syabadi yang dikena sebagai pemain violin kini menjelajahi dunia tarik suara

Syabadi yang dikena sebagai pemain violin kini menjelajahi dunia tarik suara

Karena setiap luka tak akan sia-sia. Nanti kau pun akan mengerti rahasia hidup ini.

Larik dalam lagu “Nanti Bila Kau Dewasa” Syabandi Iemail buat saya cukup imainatif. Larik itu, menyingkap banyak ihwal tentang bagaimana dunia ini bekerja. Dunia, yang tak selalu menerima setiap suka. Dunia dari mereka yang terdesak. Dari perut yang lapar, dari suara yang tak pernah didengar, dari tangan yang selalu kalah sebelum bertanding.

Namun, bagaimana dan ke mana luka-luka itu menuntun, hidup harus terus berjalan—meminjam kalimat Pram—sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya. Sebab, manusia bukan makhluk yang lahir membawa kebenaran mutlak. Ia belajar dari luka, dari kekalahan, dari dinding-dinding di luar sana.

Secara keseluruhan, Syabandi membuka banyak ruang dengan pola penulisan lirik yang menggunakan sudut pandang orang pertama dan kedua. Lagu ini bisa terbaca sebagai nasihat orangtua pada anaknya atau seseorang pada kekasihnya. Kata ‘kau’ di sana mampu merujuk pada siapa saja.

Syabandi, mengemasnya dalam musik yang cederung sederhana. Pop. Suara biola tidak sekadar menjadi ornamen, melainkan memperkuat nuansa balada yang ia sajikan sekaligus memberi tekstur dinamis, serta menjadi counter-melody terhadap vokal utama.

Syabandi Iesmail sendiri sebelumnya dikenal sebagai violinist yang mengisi banyak panggung. Sekarang ia menjelajahi dunia yang berbeda: tarik suara kemudian memperkenalkan ‘bentuk’ lain lewat single yang sudah bisa dinikmati di banyak platform digital.