Boy Warongan, penyanyi pendatang baru yang juga seorang dosen ilmu sosial asal Pematangsiantar, melempar album perdananya di bawah bendera Setengahlima Records. Album penuh bertajuk “Juang Angan” itu dijahit bersama Sigit Pramudita dan Sekaranggi dari Tigapagi dan berkolaborasi dengan Gabriella Fernaldi, Abyan Zaki “Acin” Nabilio, dan J. Alfredo (Romantic Echoes).
Dalam rilisan pers, Boy memaparkan bahwa ide album ini bermula dari Ade Paloh (Sore). Alih-alih single, mendiang Ade mendorong Boy untuk memproduksi album penuh. Dan album ini adalah karya terakhir yang mediang kawal sebelum berpulang.
“Juang Angan” bagi saya terbaca sebagai memoar. Ia berbentuk catatan pengalaman, kenangan, sikap, yang berfokus pada emosi, kesan, dan refleksi pribadi penulis atas momen-momen krusial. Temanya tentang kehidupan yang berfokus pada gerak kaum urban yang kian terbatas.
Boy menaruh trilogi di antara delapan track. Tiga kisah tentang pulang. Dari janji sampai kepulangan. Latar sosialnya berperan ketika Boy memotret absurditas kehidupan urban—dari sistem yang kaku, peran yang mengekang, hingga kaburnya batas antara kenyataan dan muslihat di ruang digital.
Konsep musiknya juga rapi. Mengembangkan soul pantai barat. Menggabungkan unsur funk yang santai, unsur funk yang santai, psychedelic, dan bahkan sedikit pengaruh musik latin atau pop. Mengedepankan nuansa Santa Monica yang populer tahun 70an. Sehingga, lagu-lagunya lentur di antara berbagai genre—pop, groove, soul, funk-pop, country, hingga folk.
Lewat album ini, Boy mencoba membaca ulang makna pulang sebagai pengalaman yang akrab bagi banyak orang dewasa, namun kerap tak selesai dibicarakan. Album Juang Angan kini telah tersedia dan dapat dinikmati di seluruh layanan digital streaming platform, termasuk Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.







Leave a Reply