24 Degrees melempar mini album berjarak empat bulan setelah merilis single perkenalan berjudul Sesal. Mereka menamainya “Perjalanan”. Mini album itu berisi lima track: Terhenti, Sesal, Terdiam, Hanya Untukmu, dan Kembalikan yang matang di area produksi. Rapi di area teknis kemudian disajikan dengan tata suara lebar yang dinamik, meledak, tanpa membuat capai telinga.
Saya tidak tahu apakah gaya produksi itu tanda mereka mulai serius memasuki rimba musik Indonesia atau hanya salah satu cara bersenang-senang secara maksimal. Soalnya, dalam konteks industri hari ini, pendengar musik cenderung rewel.
Pendengar hari ini seolah ‘menuntut’ sesuatu yang berbeda. Yang memberi pengalaman baru dalam menikmati musik sekaligus memenuhi keinginan eksistensial. Di sisi lain warna musik yang ditawarkan 24 Degrees bukan sesuatu yang baru.
Seluruh track dalam mini album ini punya struktur lagu pop-emo dengan chorus yang didesain sedemikian rupa agar anthemic dan mudah dinyanyikan bersama. Liriknya, buat saya, diolah dengan pendekatan balada patah hati yang intim dan apa adanya. DNA—keluh, kesal, marah—yang dipolerkan band-band macam Mayday Parade, Secondhand Serenade, dan For Revenge.
Namun, jika dicermati lebih dalam, 24 Degrees mulai menguatkan identitas sendiri terutama di bagian lirik. Cenderung lebih maskulin dibanding band sejenis. Tidak cengeng atau menyerah pada nasib yang marah.
Dan selebihnya, saya kira di tengah polaritas sosial yang turut membelah pendengar musik, sama atau beda itu sama saja. Tak jadi soal. Saya membaca album ini adalah medium membaca zaman dari setiap personel 24 Degrees. Mereka yang tumbuh lalu ditemani musik emo populer ketika menghantam dinding atau tersesat di lorong-lorong yang entah.
Mereka mengingat lalu memindahkan setiap perjalanan dalam mini album ini. Barangkali, untuk kembali menemukan jalan pulang, pada hati atau ke tempat di mana semuanya bermula.






Leave a Reply