Beberapa tahun lalu banyak kawan yang bertanya begini: Liburan Dirumah itu mainain apa sih? Post-rock atau emo?
Jawaban saya sama. Musik Liburan Dirumah itu seperti taktik dalam sepak bola dan basket. Tergantung bagaimana build up-nya. False nine dalam bola atau high post di bola basket. Mereka menggunakan gaya emo dengan build up—soundscape—post rock yang luas. Bisa juga sebaliknya.
Dengan kata lain suka-suka saja tergantung kebutuhan lagu, terutama narasi dan nuansa yang ingin mereka antar. Toh band-band macam American Football (era awal dan reuni), Moving Mountains dan Caracara punya formulasi serupa.
Liburan Dirumah memadukannya sehingga musik mereka cenderung ke banyak arah. Setelah hampir sembilan tahun, barangkali pertanyaan-pertanyaan macam itu kembali datang. Apalagi setelah mereka merilis mini album bertajuk “Inward”.
Mini album ini tidak menonjol dalam tata suara. Belang, terkesan mentah, tetapi buat saya masih cukup artistik karena menangkap kejelasan instrumen. Namun, tema yang mereka antar mudah ditangkap pendengar. Liburan Dirumah menggiring pendengar masuk ke ruang dengan penerangan seadanya. Untuk patah.
Lagu terakhir: Poem, buat saya memadatkan cerita yang mereka babar sejak track pertama. Saya percaya, musik mampu memendar visual lalu dengan pelan mendatangkan gelombang aneh. Kata-kata yang mereka taruh buat saya seperti tempat berlindung, sebab ketika seseorang pergi, dan tidak ada lagi bahu untuk bersandar, kalimat-kalimat kecil menjadi semacam rumah sementara.
Inward mengajak kita kembali menemukan hati kita yang dahulu—atau di masa datang—rentan. Sebab, patah hati selalu datang dengan cara yang aneh: tidak memecahkan apa pun di luar diri kita, tetapi di dalam, ia merobohkan seluruh bangunan yang pernah kita percayai.





Leave a Reply