Hikayat: Mini Album yang Hanya Terbaca sebagai Produk Baik

Hikayat: Mini Album yang Hanya Terbaca sebagai Produk Baik

Cukup menyegarkan dan diproduksi dengan baik tetapi sulit terbaca sebagai hikayat.

Cukup menyegarkan dan diproduksi dengan baik tetapi sulit terbaca sebagai hikayat.

Tuan Kelana merilis mini album berjudul “Hikayat”. Ia membangunnya sejak lama, menatahnya sejak ‘Mesra’ diluncurkan ke publik 2024 lalu. Sebagai sebuah produk, pop, album ini punya kekuatan yang cukup untuk bertarung di gelanggang musik Indonesia.

Susunan lagunya dinamis. Tata suaranya jernih dan tak ‘keruh’ ketika didengar dengan perangkat dengar murahan. Pendengar bakal merasakan aliran hangat nan alami sampai sesuatu yang metalik dan gelap. Dengan kata lain, menyesuaikan narasi yang ada di tiap lagu dengan hukum tak tertulis pop new age yang ketat.

Saya terkesan dengan pemilihan suara piano yang dikategorikan banyak produser looping sebagai pop producer keys. Ia kecil, tetapi mempertebal nuansa romantis yang Tuan Kelana inginkan. Secara keseluruhan, album ini disusun dengan sangat hati-hati di area teknis dan buat saya berhasil.

Namun, ketika meletakkan album ini sebagai teks—apalagi judulnya “Hikayat”—hanya sedikit unsur intrinsik dan ekstrinsik yang memenuhi definisi sebuah hikayat. Tuan Kelana menggunaan gaya prononima persona tetapi sang aku di dalamnya tak jelas. Ia sedang bermonolog saja, mengungkapkan pikiran dan mengelupasi batinnya.

Sehingga, buat saya, track pertama sampai terakhir sulit terbaca sebagai hikayat. Namun, sebagai sebuah album musik, “Hikayat” cukup menyegarkan sekaligus menjadi produk baik yang pantas didengar berulang.