Empat menit dua puluh detik adalah waktu yang dibutuhkan Arsa Wastu untuk merangkum perkara yang terus dibicarakan di media sosial: standar hidup. Posisi mereka dalam lagu berjudul ‘Menjadi Baik’ itu jelas: fak untuk mereka yang mengukur perjalanan orang lain dengan sepatu yang sama.
Namun, Arsa Wastu menggunakan kalimat yang lebih lembut, seperti yang mereka lakukan pada album penuh 2024 lalu. Masih dengan formula komposisi musik yang menyelipkan elemen-elemen ear candy. Masih pop.
Di luar upaya untuk membuat lagu tak monoton dengan perubahan intensitas vokal yang buat saya tak perlu—ketika menyembur para pendosa—lagu ini punya larik yang hegemonik, dalam konteks positif tentunya. Buat saya, larik hegemonik itu ada dalam kita kan berubah mengunci sejarah/Walau kita lemah/Itu bukan kalah diulang-ulang sampai akhir lagu. Dan saya tertarik dengan frasa ‘mengunci sejarah’.
Dalam perjalanan sejarah di Indonesia terutama, kata ‘baik’ ini lekat dengan kekuasaan. Ia bicara dengan bahasa lembut seperti moral dan adat. Ia mengklaim diri sebagai wakil kebenaran. Namun, di balik klaim itu, sering tersembunyi kepentingan: siapa yang berhak menentukan arah, siapa yang harus patuh, siapa yang boleh dikorbankan.
Maka baik tak jarang berubah menjadi alat, bukan nilai. Ia menuntut ketaatan dan penyeragaman—seperti standar medsos. Barangkali Arsa Wastu ingin memberi wacana alternatif. Bahwa selalu ada batas kesanggupan dan mendekati batas itu, menjauh dari putaran waktu yang membakar itu tak apa-apa.
Sebab, hidup tidak punya satu ukuran. Bahwa setiap orang memiliki tempo dan jalannya sendiri. Bahwa tidak semua keberhasilan harus dipublikasikan, dan tidak semua kebahagiaan harus disaksikan banyak mata.






Leave a Reply