Baru-baru ini Rabu merapikan tata suara album “Renjana”. Album remastered yang dirilis sebelas tahun lalu itu pun sudah kembali ke peredaran digital. Alasannya sederhana, mereka mencari kepuasan audio.
“Terus kemarin kan sempat dirilis vinyl dan ternyata oke juga kalau diproses lagi,” kata Wednes saat ngobrol santai via pesan pendek.
Ide datang dari Wednes. Ia mau album yang sempat mengagetkan industri musik Indonesia itu dikemas dengan versi yang lebih baik dan ‘mudah’ dimengerti. Bona (gitar) diseret untuk menyeimbangkan sekaligus mastering ulang album itu.
“Versi kami sendiri dan mengejar clarity di beberapa detail,” sambung Wednes.
Ketika pertama kali dirilis dalam format fisik dan digital, “Renjana” mendapat banyak pujian terutama di area konsep dan tema. Banyak penulis dan pendengar musik menemukan sensasi klenik via tata suara kering dan apa adanya—yang dibantu visual serta kemasan format fisik—dalam album itu. Bahkan Rolling Stone Indonesia pernah menobatkan “Renjana” sebagai salah satu album penting tahun 2014.
Ditanya soal risiko remastered yang akan melenyapkan kesan-kesan itu, Wednes tidak takut. Menurutnya, versi 2025 ini malah lebih klenik. “Soalnya klenik yang dulu bukan klenik yang sekarang. Justru menurut kami remastered ini malah klenik maksimum,” tutupnya.







Leave a Reply