Terlunta mencerna sahabat sirna/Beranjang sana ku dapati kau di pusara/Bukan ingin menahan pulangmu/Hanya ingin lestari hadirmu/
Saya merasa bait awal di single terbaru Rangkai: Menuai Terurai cukup imajinatif menggambarkan rasa pedih dan perih. Pengap sekaligus muram di kata ‘sahabat’ dan ‘pusara’. Pendengar diantar pada satu adegan di mana seseorang enggan beranjak dari pusara setelah memakamkan sahabatnya.
Setelahnya rasa pedih dan perih itu terkesan diuraikan satu per satu, perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran. Dengan latar musik sederhana. Layer suara secukupnya. Perkara imajinasi yang dibangun secara teknis di studio.
Lagu mereka memang terasa tua. Penuh metafor dalam menggambarkan suasana. Namun, bagi saya, hari ini—ketika kabar buruk datang setiap pagi—kita butuh berhenti sejenak. Dan mendengarkan Menuai Terurai membuka portal menuju area kontemplatif yang begitu luas. Sebab, setiap orang butuh kemuraman sebelum menuju cahaya.
Menuai Terurai ditulis dan diproduksi oMirza, Bimo, Rai, dan Kibar Muhammad Pembela lalu di-mixing Rendi Kopay. Area mastering dikerjakan Rhesa Aditya. Single itu sudah dapat didengarkan di seluruh platform musik digital di bawah naungan Setengah Lima Records.







Leave a Reply