The Bunbury merilis mini album. Judulnya “Romance Reigns”. Mereka bilang mini album yang digarap di Catpaws Lab diproduseri Dhandy Satria bersama Yoga Bhakti itu ditatah dengan santai. Tidak terburu-buru.
Empat track: Some Stupid Songs To Cry About, Jeane, Brand New Ancient, Some Stupid Songs To Cry About (Extra Pain—akustik) lahir dari pertukaran ide secara daring kemudian diproduksi dengan tenang. Sehingga, mini album ini buat saya terlihat rapi. Konsepnya pun jelas.
Dari segi musik, mini album ini sepertinya memadukan melodi manis ala twee pop 80an dengan distorsi gitar shoegaze dengan distorsi yang direduksi secara cukup sehingga masih ramah di telinga. Menonjolkan vokal—yang menyembur banyak kisah melankolia—di atas fondasi gitar.
Hampir semua elemen dalam mini album ini—di luar judul yang menggiring ingatan pada juara gulat televisi: Roman Reign—sangat 80an. Dan di sanalah menariknya. The Bunbury dan “Romance Reigns” tidak hanya menjadi produk yang bernilai secara ekonomis tetapi juga intelektual.
Mini album ini untuk semua generasi. Penghantar nostalgia saat sampai pada pendengar yang berusia 50-60 tahun—terutama yang punya akses ke televisi. Tentang cinta dan segala persoalannya. Era yang identik dengan buku diary,surat cinta, telepon rumah dengan kabel panjang, kaset mixtape, dan pertemuan tatap muka. Zaman ketika restu orangtua, komunikasi, rasa cemburu, dan keterbatasan pertemuan sulit dipaparkan dengan kata-kata. Linimasa, ketika perasaan di atas segalanya.
Mini album ini menjadi produk intelektual karena memperlihatkan sedikit kultur pop kaum urban 80an pada generasi saat ini. Ia terbaca dalam lirik, aransemen, dan visual yang The Bunbury sajikan.
Dalam konteks musik saat itu, penampilan seorang seniman, kemampuannya bercerita, dan selera visualnya (gambar sampai fashion) menjadi sama pentingnya dengan kemampuan vokal. Gaya rambut Rod Stewart yang acak-acakan dalam Forever Young, gaya militer Janet Jackson dalam Rhythm Nation, narasi visual The Cure, dan banyak lagi hal lain yang menjadi tren setelah kepopuleran televisi berwarna dan saluran MTV.
Gambar-gambar itu memengaruhi kehidupan anak-anak muda perkotaan di Indonesia. Dari Lupus sampai Catatan Si Boy. Dari ngeceng di Melawai sampai B-boy di gang-gang sempit kota. Vibes yang muncul di album The Bunbury ini buat saya jauh lebih terasa dari daya melankolia mereka.






Leave a Reply