Mengakhiri satu era seperti berdiri di tepi jurang: kita tahu harus melompat, tapi tak pernah benar-benar tahu apakah tanah di seberang sana cukup keras untuk dipijak. Sebab, sebuah era bukan hanya rentang waktu. Ia tentang kebiasaan, kenyamanan, dan tepuk tangan yang sudah kita hapal nadanya.
Dalam konteks seni, terutama musik, pergantian era terkesan lebih kejam daripada pergantian presiden. Setiap orang cenderung menyukai apa yang sudah mereka kenal. Ketika kolektif musik atau musisi mengubah halauan, mereka akan berhadapan dengan banyak dinding yang meremukkan tulang.
Maze In Mave tahu betul rasanya. Band yang dikenal lewat musik-musik dengan nuansa Jejepangan itu menaiki dinding demi dinding sambil meraba banyak kemungkinan selama dua tahun sebelum menemukan pijakan yang menopang tubuh mereka.
“Kami sempat tenggelam karena pergantian personel dan perubahan arah musik yang cukup besar. Dari warna lama yang kental dengan nuansa jejepangan, kami perlahan menemukan bentuk baru di modern rock,” tulis mereka dalam rilisan pers.
Satu single mereka rilis dengan warna baru. Judulnya ‘Lost’. Lagu itu sebenarnya bagian dari album penuh yang direncanakan rilis tahun 2024. Namun, sekian persoalan tadi memaksa mereka memasukannya ke lemari pendingin selama dua tahun. “Kami sadar lagu ini harus dibangun ulang agar menyatu dengan energi dan warna vokal yang baru,” sambung mereka.
Bagi Maze In Mave, lagu yang dirilis ke banyak platform dengar digital itu adalah penanda berakhirnya suatu era sekaligus keberanian untuk menulis bab selanjutnya. Memulai era baru berarti bakal menjelajahi banyak kemungkian. Namun, musik mengajarkan satu hal yang sederhana: stagnasi adalah bentuk kematian yang paling sunyi.
“Lagu itu adalah langkah awal kami setelah dua tahun diam. Arahnya jelas karena kami tidak sedang mencoba aman atau sekadar mengikuti arus. Kami sedang mencari suara kami sendiri. Dan ‘Lost’ adalah titik mulai,” tutup mereka.









Leave a Reply