Last Trip: Sufi Rock yang Masih Jauh dari Kesufian

Last Trip: Sufi Rock yang Masih Jauh dari Kesufian

Semoga di album yang bakal rilis 2026 ini ada lagu yang benar-benar mendekati kesufian itu.

Semoga di album yang bakal rilis 2026 ini ada lagu yang benar-benar mendekati kesufian itu.

Ketika membaca rilisan pers Musuffer yang berisi kabar diluncurkannya single perkenalan berjudul ‘Last Trip’, datang gambaran seperti ini ke kepala saya: musiknya bakal membentuk kolase halusinatif bagai Dalai Lama yang bernyanyi dari puncak tertinggi.

Pasalnya—dalam rilisan pers itu—Musuffer menulis bahwa mereka mengultuskan sufi rock. Dengan kata lain mengadon psychedelic, stoner, mediteranian, hingga rock n roll lalu memanggangnya menjadi genre bernama sufi rock dalam menyajikan tema-tema perihal eksistensial manusia.

Namun, ketika mendengarkan single ini sejak menit pertama, gambar-gambar itu buyar. Mereka ingin terdengar ‘klasik’ sehingga meramu tata suara mendekati tahun 60an. Sayang tak ada kesan meditatif—dalam konteks kepopuleran psikedelik tahun segitu—seperti 13th Floor Elevators yang provokatif sekaligus melakukan “pencarian” terhadap kesadaran tertinggi.

Last Trip terdengar seperti musik rock biasa. Stoner, tanpa perjalanan sonik mendalam. Kalau diubah tata suaranya menjadi lebih modern ya bakal seperti The Sigit. Barangkali karena terlalu mengedepankan persoalan teknis, struktur semata, yang banyak memanfaatkan efek suara untuk menghadirkan kesan tertentu—yang sayangnya masih jauh dari kesufian.

Namun, bisa saja mereka akan benar-benar memindahkan leksikal ‘menjauh dari dunia’ dalam lapisan bunyi di lagu-lagu berikutnya karena tengah menyiapkan album. Barangkali.