Santi Saned: Album Mentah yang Ditunggu

Santi Saned: Album Mentah yang Ditunggu

Kalau nggak begini, bukan Santi Saned namanya.

Kalau nggak begini, bukan Santi Saned namanya.

Jika menyukai album blues dekat industri yang dikemas dengan tata suara mengagumkan atau kekinian, barangkali “Lone Man’s Line” Santi Saned nggak bakal masuk playlist atau katalogmu. Album yang rilis bulan lalu ini disajikan dengan tata suara kering. Gersang. Dengan kata lain mentah.

Namun, di sanalah kekuatan album ini. Dan kalau tidak begitu, bukan Santi Saned namanya. Dan saya bersyukur dia masih Santi Saned yang sama seperti belasan tahun lalu. Seorang musisi naratif yang bodo amat terhadap nilai-nilai pop di sekitar sekaligus punya kesadaran penuh atas setiap apa yang ia lakukan, termasuk produk.

Segala hal yang mentah membuat album ini terasa muram. Santi Saned menjaring jamming blues yang sendu lalu mengalirkannya secara lambat sampai dengan serak memilukan tapi tajam.

Santi Saned bicara banyak dalam “Lone Man’s Line”, terutama untuk mereka yang terlalu sering kehilangan dan kesepian. Yang saya tahu, meski suaranya mengingatkan pada banyak pendahulu, Janis Joplin misalnya, ia tidak mencoba meniru siapa pun.

Santi Saned hanya mengeluarkan sesuatu yang sejak lama ia pendam, sesuatu yang menolak mati walau terus diinjak oleh hari-hari yang terasa semakin absurd. Ia bercerita seperti meraba kembali jejak hidupnya sendiri—kepergian orang-orang, kata-kata yang tak pernah sempat ia ucapkan, dan luka yang tak pernah selesai.