Is The Best: Ketika Prontaxan Serius (Banget)
Dok. Prontaxan

Is The Best: Ketika Prontaxan Serius (Banget)

Sudahi perkelahian bab selera! Prontaxan sudah datang!

Sudahi perkelahian bab selera! Prontaxan sudah datang!

“Is The Best” muncul di saat yang tepat. Ketika musik dan komunitas—dalam era pas post pas post seperti sekarang—mulai terkotak-kotakan. Terpolarisasi sampai menjadi bahan penilaian menggelikan terhadap selera musik bahkan kelas. Taek lah!

Prontaxan, sejak track ‘Parixan Nissan’—yang buat saya menggelitik karena sedikit main plesetan judul lagu unit  hiphop Bandung yang sekarang semi almarhum—sudah memberi tahu kita seperti apa album mereka. Album yang terkesan cuek yang menawarkan keceriaan jangka panjang, tidak hanya di lantai dansa tetapi juga produksi rekaman.

Meski terkesan cuek, mereka ini serius dalam membangun aransemen dan tata suara di tiap lagu. Konsep funkot klasik dengan sedikit Euro Trash sampai elemen folks ke oplosan brutal (simak Tarian Sari bersama Frau’) tidak dikemas asal-asalan, bukan ‘seng penting njoget’ saja. Ada eksplorasi yang buat saya habis-habisan!

Potensi terbesar dalam album ini, memang, keluat ketika diputar dengan volume maksimal di lantai dansa. Tentu saja frasa ‘lantai dansa’ tidak hanya merujuk ke club atau cafe yang disulap menjadi diskotik. Ia bisa di mana saja, dari warung-warung dengan aroma masakan setengah matang di dapur sampai di lorong terminal di mana orang-orang datang dan pergi dengan mata lelah sambil memikul hidup yang tak pernah selesai.

Dan yang terpenting, penikmatnya bisa siapa saja. Dari mereka yang merasa paling indie, si paling komunitas, publik figur, orang-orang biasa, sampai para pekerja yang masih bertahan, masih berani, masih memelihara bara kecil dalam meski dunia berulang kali mencoba memadamkannya.