A King to Nothing: Gairah yang Belum Cukup Mencekik
Foto by Knuckle Chain

A King to Nothing: Gairah yang Belum Cukup Mencekik

Knuckle Chain sepertinya bakal lebih brutal dalam rekaman-rekaman selanjutnya.

Knuckle Chain sepertinya bakal lebih brutal dalam rekaman-rekaman selanjutnya.

Hardcore selama beberapa tahun ini seperti dikulik habis-habisan oleh pecinta musik cadas setempat. Selama itu pula kepopuleran genre ini terus naik. Dan yang paling menyenangkan adalah band-band baru dan lama saling mempengaruhi, baik itu lewat tata suara atau pertunjukan.

Knuckle Chain muncul di tengah kepopuleran genre ini di sekitar. Metalic Hardcore Beatdown, begitu kata mereka. Kendara yang digunakan untuk menyembur kemarahan sampai rasa jijik terhadap sejarah dan setiap hal pengantar murka. Satu album penuh dirilis baru-baru ini, berjudul A King to Nothing yang berisi delapan track.

Album ini memang tidak punya tata suara yang megah nan padat. Sehingga, pendengar tidak akan merasa tercekik. Tidak pula menawarkan interpretasi fusi—dengan metal tentunya—yang belum pernah terdengar sebelumnya. Musik mereka relatif sederhana saja.

Namun, yang paling menonjol adalah mereka memainkan setiap track dengan gairah masa remaja penuh pemberontakan dan pencarian. Saya menangkap kesan bahwa mereka memahami betul—barangkali dengan bantuan Bugis sebagai produser—bahwa energi saat rekaman dan live harus sama besarnya.